Pelukan Habibah

Pagi itu, Sainah sedang menjemur pakaian ketika bumi berguncang. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, andai tangannya tak segera memegang tiang jemuran.

“Habibaaah!” teriaknya panik. 

“Maaaak!”

Sainah menoleh ke belakang. Tampak putri kecilnya sudah jatuh terduduk di tanah, sejarak dua meter darinya. Sebelah tangan Habibah menumpu ke tanah, sebelah lagi menggapai ke arah ibunya. 

“Duduk aja di situ. Biar Mamak yang kesana!” sahut Sainah cepat.

Habibah segera menurunkan tangannya. Matanya awas melihat ibunya yang datang menghampiri. Bruk! Tiba-tiba ibunya juga jatuh seperti dirinya. Habibah mulai menangis.

“Hana peu-peu, Neuk. Sikit lagi Mamak sampek (1),” kata Sainah menenangkan anaknya.

Tanpa memedulikan perih di lutut yang tergores batu halaman, Sainah menggeser tubuhnya pelan-pelan mendekati Habibah. Tetap dalam posisi duduk, ia tak lagi berani berdiri. Ayunan gempa ini begitu kencang. Belum pernah ia rasakan yang seperti ini, seumur hidupnya. 

Ketika tangannya berhasil menjangkau Habibah, segera ia tarik anak perempuannya itu ke dalam pelukan. Tepat saat itu ia mendengar suara keras yang menakutkan. Braaaak! Rumahnya yang terbuat dari papan dan seng, rubuh!

Sainah menggigil. Ia surukkan kepala Habibah ke dadanya, agar tak melihat apa yang dilihatnya. Berusaha menguatkan hati, ia sebut nama Tuhan tak henti-henti. Allahu Akbar! Allah Maha Besar! Apakah ini saatnya kiamat, batinnya.

Setelah sepuluh menit yang terasa begitu lama, akhirnya tanah yang dipijak berhenti mengayun. Pelan-pelan, Sainah mengajak putrinya berdiri. Habibah berdiri sambil terus memeluk pinggang ibunya. Gadis berumur empat tahun itu masih ketakutan. 

Sambil mengusap kepala putrinya, Sainah memandang sekelilingnya. Para tetangga berdiri di luar rumah seperti dirinya. sebagian rumah mereka ambruk seperti rumahnya. Termasuk tiang listrik, lampu jalanan dan gedung SD di depan rumahnya. Sainah bersyukur putrinya itu tadi bermain di dekatnya, di luar rumah. 

Tiba-tiba terjadi kegaduhan. Ramai orang berlarian dengan panik. “Ie laot naik! Air laut naik,” teriak mereka dengan gaduh.

Sainah tak mengerti apa yang terjadi, sampai detik berikutnya ia melihat air datang bergulung-gulung dari arah pantai. Warnanya hitam, berdiri setinggi pohon kelapa,  menyeret apa saja yang dilewatinya. Perasaan ngeri menguasai Sainah. Segera ditariknya tangan Habibah, lari menjauhi air, bersama puluhan atau mungkin ratusan orang yang entah datang dari mana.

Terlambat! Kaki Sainah bukan lawan si air hitam yang bergerak dengan begitu cepat. Dengan segera tubuhnya tergulung oleh air, ikut naik ke atas, lalu jatuh dihempaskan ke bumi. Hatinya mencelos, pegangannya terlepas dari Habibah.

Sekali lagi gelombang datang. Kembali Sainah terangkat, dan dijatuhkan kembali menimpa pecahan kaca dan papan. Tapi bukan karena itu ia menjerit, melainkan karena melihat kepala Habibah timbul tenggelam di air, jauh dari jangkauan tangannya.

Tiba-tiba sepotong balok besar menimpa kepalanya, membuatnya kehilangan kesadaran. Tanpa daya, tubuhnya diseret air yang kemudian meninggalkannya di atas balkon lantai dua sebuah rumah, entah berapa jauh dari rumahnya. Ketika ia sadar, hari sudah menjelang sore. Air sudah surut. Orang-orang yang lewat membantu Sainah turun.

Tanpa menghiraukan luka-luka di tubuhnya, Sainah berjalan pulang ke rumahnya. Hatinya bagai disedot melihat pemandangan yang dalam mimpi pun tak pernah terbayang akan dilihatnya. Sampah-sampah menggunung. Mayat-mayat bergelimpangan dengan pakaian dan bahkan tubuh yang tercabik. Dengan hati gentar dan tangan gemetar, Sainah memeriksa setiap jenazah yang terlihat olehnya. Kalau-kalau salah satunya adalah orang-orang yang disayanginya. Mungkin ayah, ibu, atau saudara-saudaranya yang tinggal di kampung sebelah. Atau suaminya yang tadi pagi telah berangkat berjualan ke pasar. Atau Habibah, putri kesayangannya. Nihil. Ia tak menemukan satupun dari mereka. Entah ia harus bersyukur atau semakin cemas.

Dengan susah payah, sampai juga Sainah di rumahnya. Walau malam hampir tak menyisakan cahaya, ia bisa melihat air hitam yang kini ia tahu bernama tsunami itu hanya menyisakan batu pondasi, dengan tumpukan sampah berukuran besar di atasnya. Lelah lahir batin, Sainah jatuh tertidur, melupakan lapar yang mengiris -iris perutnya.

Esok paginya, Sainah bangun dengan tergesa-gesa. Bagai mendapat ilham, ia lari menuju pemakaman kampung. Terseok-seok, ia berusaha mengenali makam putranya, Habibie, yang selalu ia kunjungi setiap Hari Jum’at. Di situlah, tulangnya bagai dilolosi dari raga, ketika melihat sosok putrinya, Habibah, yang tertelungkup di atas gundukan makam. Kedua tangannya memeluk kayu nisan, bagai memeluk kembarannya yang wafat setahun lalu karena sakit panas.

Sainah tak punya tenaga lagi. Tubuhnya ambruk lemas bagai sarung basah jatuh dari jemuran. Air mata yang sejak kemarin ditahannya, kini menderas sampai ke dada. Meski begitu, bibirnya masih mampu mengucap lirih, “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun.” 

Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepadaNya-lah kita kembali.

(1) Hana peu-peu, Neuk. Sikit lagi Mamak sampek = Tidak apa-apa, Nak. Sedikit lagi Ibu sampai

 

 

 

 

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like