Tanoh Alasku yang Majemuk

Kali Alas di Kutacane, Aceh Tenggara. Photo by Ismardhani
Aku tinggal di Kutacane ketika kecil, tepatnya sejak kelas 4 SD sampai lulus SMP. Kota ini berbatasan dengan Tanah Karo, yang merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Mungkin itu sebabnya, cukup banyak penduduk dari suku Batak yang juga tinggal di ibukota Kabupaten Aceh Tenggara ini.
Bukan hanya Batak, di Kutacane juga terdapat berbagai suku pendatang lainnya, seperti Aceh, Gayo, Jawa, Minangkabau, Aneuk Jamee dan lain-lain. Mereka semua hidup rukun dengan penduduk dari Suku Alas, yang merupakan etnis asli di lembah yang diapit Gunung Leuser dan Bukit Barisan ini. Ya, untuk ukuran kota kecil, Kutacane sudah cukup majemuk.
Aku tinggal di desa yang bernama Purwodadi. Dari namanya kamu bisa menebak, bahwa mayoritas penduduknya berasal dari suku Jawa. Kamu benar sekali. Para tetanggaku masih menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya, masih merayakan lebaran ketupat di setiap bulan Syawal, masih membuat kerupuk opak, masih menggunakan sebutan Mbak, Mas, Paklek, Bulek, Mbah. Masih njawani-lah, walau bisa dihitung jari siapa saja yang sudah pernah pulang ke Tanah Jawa.
Selain itu, ada tempat yang namanya Kampung Tarandam. Nah, kalau ini, tentunya didominasi oleh suku Minangkabau. Ibuku yang asli Minang senang sekali bila berkunjung ke situ, karena disitulah beliau bisa menggunakan bahasa Minang dengan leluasa. Dan tentu saja, jamuan nasi Padang itu lezatnya tiada tara.
Aku dan saudara-saudaraku bersekolah di SDN 5 Tanah Merah, lalu lanjut ke SMPN Tanah Merah. Lagi-lagi kamu tentu bisa menebak, kedua sekolah ini terletak di Desa Tanah Merah. Entah mengapa namanya demikian. Tapi bagiku, itu nama yang puitis. Banyak suku Batak yang tinggal di sini, termasuk teman-teman dan guru sekolahku.
Tempat tinggal yang terkonsentrasi seperti itu, tidak melunturkan semangat kebersamaan antar suku dan agama. Dari aku kecil sampai sekarang, tak pernah aku mendengar ada perselisihan – apalagi kerusuhan – yang melibatkan SARA. Semoga demikianlah untuk seterusnya, keadaan kota tercinta yang telah mengajarkan aku pada keragaman dan toleransi.
Di sekolah, baik ketika SD mau pun SMP, guru dan murid menggunakan Bahasa Indonesia, baik di dalam kelas mau pun di luar kelas. Kecuali bila perbincangan hanya melibatkan sedikit orang yang sesuku. Itu pun tak kan lama, karena pastinya teman lain suku akan segera bergabung dalam percakapan itu tanpa sungkan.
Hanya saja, ketika SD, aku sempat iri pada teman-teman Kristianiku. Itu karena mereka boleh keluar bermain ketika pelajaran Agama Islam, sementara aku dan teman-teman muslim harus duduk manis di dalam kelas. Tetapi ternyata hal tersebut tak berlangsung lama. Sekolah segera mendapatkan guru yang bisa memberikan pelajaran Agama Kristen. Maka tak ada lagi pemandangan teman-teman yang berlarian di halaman ketika jam belajar. Mereka sama-sama belajar sepertiku. Belajar Agama Kristen di ruang kelas yang berbeda.
Setiap kali lebaran, aku dan teman-temanku akan berkunjung ke rumah guru-guru yang beragama Islam. Pindah dari satu rumah ke rumah yang lain, sampai perut kekenyangan tak mampu lagi menampung makanan.
Pernah ada kejadian lucu yang masih kuingat sampai sekarang. Waktu itu kami berlebaran ke rumah salah seorang Pak Guru. Teh manis sudah dihidangkan ketika beliau masih di kamar. Karena haus, segera kuambil salah satu cangkir yang terletak di hadapan dan menghirup isinya. Ups, masih panas rupanya. Segera kuletakkan kembali dengan buru-buru ke tempat semula. Teman-teman cekikikan melihat tingkahku.
Tak lama kemudian, Pak Guru pun muncul ke ruang tamu. Kami berbincang ini dan itu, sampai kemudian beliau mempersilakan kami untuk minum. Enggan karena khawatir teh masih panas, kami diam tak menyambut. Mengira kami masih malu, Pak Guru bermaksud mendahului minum untuk membuat kami merasa nyaman. Ealah, kenapa beliau mengambil cangkir yang tepat di depanku? Eh, cangkir itu juga tepat di depan beliau sih, wong kami duduk berhadapan.
Sebelum aku sempat bilang apa-apa, beliau sudah meneguk teh itu dengan nikmat sekali. Aku dan teman-teman saling pandang. Tanpa kata, kami bersepakat untuk tutup mulut. Apa jadinya bila beliau tahu, telah meminum cangkir bekas mulut muridnya? Tetapi tawa kami meledak begitu keluar dari rumah beliau. Dengan bercanda teman-teman menyalahkanku. Yah, sampai kini pun aku masih merasa bersalah karena tak jujur waktu itu.
Begitu pula di Hari Natal, kami akan janjian lagi untuk mengunjungi guru-guru yang merayakannya. Salah satunya adalah Ibu Karantina, guru SD-ku. Beliau adalah guru senior yang sangat kuhormati. Bagiku ia sangat pintar, dan bisa mengajar dengan cara yang mudah dipahami. Selain itu, selalu bersikap tegas dan disiplin, dan pandai bernyanyi.
Pernah suatu hari, di pelajaran kesenian, ia membuka buku musik di depan kelas. Membolak-balik halaman mencari lagu. Aku yang duduk di kursi paling depan, bisa melihat beliau berusaha memahami nada suatu lagu dengan membaca not baloknya. Sungguh ajaib, pikirku waktu itu, hanya dari simbol-simbol seperti itu, ia bisa tahu bagaimana menyanyikannya? Aku masih ingat lagu yang kemudian ia ajarkan pada kami itu. Ambilkan Bulan Bu, judulnya. Lagu yang indah sekali.
Maka di Hari ini, ingin kuucapkan Selamat Natal untuk guru-guruku. Pada Ibu Karantina, Pak Doni Silaban, Pak P. Sibarani, dan yang lainnya. Juga pada teman-teman masa kecilku, Marlina Margareta Datubara , Mister Sinaga, Sondang Lisna, dan yang lainnya. Semoga kalian semua sehat dan bahagia selalu bersama keluarga.
Juga pada seluruh temanku yang merayakan, Selamat Natal dan Tahun Baru. Semoga damai di bumi, damai di hati, bahagia selamanya.
Jakarta, 25 Desember 2021
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like