Belajar dari Buah yang Pahit

Beberapa karya Zahra
Mataku terbelalak melihat nilai rapor Zahra. Bagaimana bisa ada nilai D? Untuk pelajaran seni budaya, pula, yang mencakup seni musik dan prakarya, pelajaran yang sangat disukainya. Aku tutup mata saja, nilainya sudah A di setiap rapor bulanan. Eh, pernah sih, dapat B untuk musik, sekali.
Bergegas kututup layar laptop, lalu melangkah menuju kamar putriku itu. Kulihat ia sedang duduk bersandar bantal di kasurnya. Wajahnya kusut, memandang layar tablet di pangkuannya. Segera aku mengambil tempat di sebelahnya. Ikut mencermati halaman rapor yang terpampang di depannya.
“Kok bisa, Kak?” tanyaku tak mampu menahan diri.
Ia tak menjawab. Jarinya bergerak membuka laman Google Class Room. Disusurinya daftar tugas yang berderet rapi sesuai kelompok pelajaran, lalu berhenti di satu titik, tugas terakhir seni musik: memainkan lagu Pelajar Pancasila dengan alat musik pilihan. Ada keterangan berwarna merah di situ: missing. Zahra tidak mengumpulkan tugas.
Kubaca due date pengumpulan tugasnya: 12 Desember. Ah, di tanggal itu, Zahra masih dirawat di rumah sakit. Baru pulang tanggal 17 yang lalu, ketika pengisian nilai rapor sudah selesai dilakukan. Rapor lalu dikirimkan melalui email pada tanggal 18. Pantaslah ia tidak bisa mengumpulkan tugas.
Pantas? Benarkah?
Terbayang lagi olehku nilai-nilai A yang telah diperolehnya selama ini. Juga komentar-komentar positif yang dituliskan guru-gurunya setiap kali memeriksa tugas yang dikumpulkannya. Serta semangat dan gairahnya dalam setiap pengerjaan tugas kedua mata pelajaran itu. Semua itu berujung pada nilai D di rapor semester?
“Yang ini belum kukerjakan ya, padahal udah sempat kulatih,” gumam Zahra pelan. Kutatap wajahnya yang menyiratkan rasa kecewa. Aku cuma diam, tanpa mampu menghibur. Dalam hati, aku juga merasakan hal yang sama.
Namun perasaan itu terobati pada sesi konsultasi rapor yang diadakan secara daring pada pagi ini. Kata guru prakaryanya, “Zahra sangat berbakat di bidang seni. Dia juga punya passion yang kuat. Karyanya bagus-bagus, dan selalu dikumpulkan tepat waktu.”
Hatiku membuncah oleh rasa syukur.
“Zahra juga sangat bagus di musik. Dia sudah lancar membaca not balok dan memainkan piano. Hanya perlu berlatih sedikit lagi untuk ketepatan tempo.” Begitu kata guru musiknya.
“Sayang sekali, Zahra tidak mengumpulkan tugas yang terakhir, sehingga nilainya jatuh. Kami mau mengingatkan, kemarin, tapi kan Zahra lagi sakit ya. Nggak apa-apa ya, insya Allah bisa diperbaiki di semester depan,” sambung wali kelasnya.
Namun obat paling mujarab datang dari Zahra sendiri.
“Kakak harus gimana biar nggak kejadian lagi kayak gini, Kak?” tanyaku seusai sesi konsultasi dengan guru. “Kakak pintar, tapi nilai rapornya D.”
“Tugas-tugas harus langsung dikerjakan, Ma. Harus selesai lebih cepat, ngumpulinnya nggak nunggu due date,” jawabnya sambil meletakkan pensil gambarnya. Lihatlah, tiada hari tanpa menggambar baginya.
“Iya, karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Kakak bisa sakit, seperti kemarin, atau mama yang sakit, atau ada halangan lain sampai Kakak nggak bisa mengumpulkan tugas. Lebih cepat, lebih baik. Tapi, gimana biar Kakak ngga lupa dengan tugas-tugasnya? Kemarin Kakak kayaknya lupa ada yang belum dikumpulkan.”
Ia berpikir sejenak, sebelum menjawab lagi, “Semua tugas harus dicatat. Trus nanti aku check list, mana yang udah dikumpulkan, mana yang belum.”
Aku tersenyum lega. Putriku telah belajar sesuatu, walau dari buah yang pahit. Bakat dan passion saja tidak cukup. Harus diikuti dengan manajemen diri dan waktu. Kulihat wajahnya kini sudah kembali sumringah. Pujian para guru tadi kelihatannya telah membesarkan hati putriku yang ingin jadi seniman ini.
Semangat ya, Nak. Selalu.
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like