Sesal Meutia – Cerpen

“MEUTIA, kamu kan suka baca. Nah, aku mau minta tolong.”

Meutia meletakkan novel yang dibacanya, memberi perhatian pada Kak Zizi yang sudah duduk di tepi dipan, di samping meja belajarnya.

“Kita dapat undangan untuk ikut lomba teater antar asrama. Kamu tolong bikinkan naskahnya ya, biar kita bisa ikutan lombanya.”

Meutia mengernyitkan keningnya, lalu cepat-cepat menggeleng. “Aku kan sukanya baca, Kak. Bukan suka nulis.”

“Iya, kamu suka baca, juga suka nonton teater. Jadi, kamu punya modal untuk nulis. Enggak usah panjang-panjang. Untuk tampilan 20 menit aja.”

Meutia masih akan mengelak, tapi Kak Zizi sudah menyambung kalimatnya. “Kamu boleh pilih, nulisin naskah, atau ikut jadi pemain. Lombanya masih bulan depan, kok.”

Meutia merapatkan bibirnya. Ia tahu, seniornya yang berasal dari Makassar ini sulit dibantah. Dipikir-pikir, lebih baik dia menulis naskah saja. Kerjanya cuma sekali. Daripada jadi pemain, pasti harus ikut latihan berkali-kali selama sebulan ke depan.

“Aku coba nulis, deh,” katanya menyerah.

Kak Zizi tersenyum girang. “Kamu pasti bisa. Tiga hari ya?”

“Haaah? Kan lombanya masih lama, Kak?”

“Lho, kan harus segera mulai latihaaan,” jawab Kak Zizi gemas.

Meutia membuka mulutnya, tetapi batal bicara. Percuma menghindar dari kakak senior satu ini, pikirnya.

 

***

 

Lampu Mushola Asrama Putri Fatimah masih menyala ketika Meutia sampai di pintu gerbang asrama. Padahal sudah jam delapan malam. Ada apa? Waktu Sholat Isya kan sudah lama berlalu.

Semakin dekat, Meutia menyadari teman-temannya ternyata sedang berlatih teater di mushola. Diurungkannya niat untuk langsung masuk ke kamar. Penasaran juga ia, siapa yang melatih mereka? Bagaimana naskahnya diterjemahkan ke atas panggung?

Minggu lalu, berhasil juga ia menuntaskan naskah yang diminta. Menjelang deadline, tentunya. Ia tak punya ide sama sekali di dua hari pertama. Di hari ketiga, hampir putus asa ia duduk di depan meja belajarnya. Diputar-putarnya pulpen di jarinya. Diraihnya kertas HVS bergaris dari pojokan meja. Dipejamkannya mata. Pikirannya berkelana. Ia ingat ibunya. Ayahnya. Petani yang dikunjungi ayahnya. Desa mereka yang kebanjiran. Gelondongan kayu di antara air bah. Kayu dari hutan. Ah, ia tahu apa yang akan ia tulis.

Ditulisnya kata pertama: Hutan. Dilanjutkannya jadi kalimat: Hutan itu menghidupi mereka sejak puluhan tahun lalu. Tak disangkanya, kata-kata berikutnya muncul berlompatan di kepalanya. Segera ditangkapnya penuh semangat. Dan dipindahkannya menjadi tulisan di atas kertas putih di hadapannya. Jadilah naskah teater yang bercerita tentang desa di kaki bukit. Kayu-kayunya dijarah dengan serakah oleh para perambah. Maka banjir bandang tak terbendung lagi.

Meutia sebenarnya tak percaya diri dengan hasil tulisannya itu. Namun, Kak Zizi menerima kertas naskahnya dengan senyum dan acungan dua jempol tangan.

“Hai Meutia, ayo masuk. Mungkin kamu bisa memberi masukan untuk latihan kita.” Sapaan gembira Kak Zizi menyadarkan Meutia dari lamunan.

Dilepasnya sepatu di ambang pintu mushola, lalu melangkah masuk ke dalam. Memang tepat sekali ruangan ini dijadikan tempat latihan, lapang dan nyaris tanpa perabot. Bisa difungsikan sebagai panggung dengan leluasa. Teman-teman dapat langsung berlatih seusai sholat Isya berjemaah. Tidak perlu saling menunggu lagi.

Di tengah ruangan, Meutia melihat dua orang temannya sedang beradu akting sebagai tokoh perambah hutan dari kota. Mereka berdua memegang kertas naskah di tangan, dan membaca tulisan di situ setiap kali berbicara. Tanpa sadar, Meutia mencemooh di dalam hatinya. Jauh sekali penampilan mereka dari para pemain teater yang pernah ia saksikan. Bagaimana mau ikut lomba kalau begini? Ah, ia tidak tertarik untuk melanjutkan.

Dengan alasan lelah dan masih ada tugas kuliah yang harus dikerjakan, Meutia pamit pada Kak Zizie dan teman-temannya. Nyatanya, habis mandi dan Sholat Isya, ia langsung berkelana ke alam mimpi.

 

**

Meutia duduk di kursi barisan depan. Kedatangannya yang di awal waktu memungkinkannya untuk memilih posisi duduk yang tepat. Ia ingin bisa melihat jelas para pembicara seminar nasional yang diadakan oleh kampusnya ini, tanpa terhalang oleh tubuh atau kepala peserta lain. Posisi di depan juga memperbesar kemungkinan ia akan terlihat oleh moderator bila mengacungkan tangan di sesi tanya jawab. Ia memang tak mau rugi, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mengingat ia sudah mengorbankan waktunya untuk datang ke sini. Waktu yang bisa ia gunakan untuk beristirahat di hari Minggu, atau menonton penampilan teman-temannya dalam lomba teater hari ini.

Kak Zizi dan teman-temannya sebenarnya sudah membujuk Meutia agar ikut serta ke acara lomba. Bukankah sudah selayaknya penulis naskah menghadiri pementasan karyanya? Lagi pula itu adalah kesempatan yang sangat baik untuk memperluas pergaulan dengan mahasiswa dari asrama lain yang ada di Yogyakarta.

Namun, Meutia menolak karena waktu lomba tersebut bersamaan dengan seminar yang temanya sangat menarik ini. Ia sudah melakukan pendaftaran sejak lama. Lagi pula, salah satu nara sumbernya adalah seorang tokoh nasional dari ibukota yang ingin ia dengar paparannya.

Namun sesungguhnya, ada alasan lain yang tidak Meutia ungkapkan. Ia tidak percaya diri pada naskahnya. Tidak percaya pula pada kemampuan teman-temannya untuk bisa tampil dengan baik. Ia tidak sanggup membayangkan rasa malu bila mereka tampil buruk dan kalah. Karena itu ia merasa lebih baik di sini saja. Toh, dia sudah melakukan kewajibannya, menulis naskah cerita. Selanjutnya, bukan tanggung jawabnya lagi.

Meutia lalu memusatkan perhatiannya pada acara yang sudah dibuka oleh pembawa acara. Ternyata memang menarik. Meutia tak bosan mengikuti semua materi sampai sore. Meski begitu, ia segera pulang begitu acara berakhir.  Tak singgah kemana-mana lagi. Bagaimanapun juga, ia agak penasaran dengan penampilan teman-temannya. Dalam hati ia bersiap-siap untuk mendengar berita buruk.

Teman-temannya belum kembali ketika ia sampai di asrama. Tetapi baru saja ia membuka pintu ruang tamu, namanya dipanggil dari halaman dengan antusias. Segera ia membalikkan badan, dan Kak Zizi sudah menubruknya dengan pelukan.

“Meutiaaaa, kita menang. Juara tiga!” Kak Zizi menunjuk piala berwarna kuning emas yang diangkat Ririn. “Wah, naskah kamu bikin penampilan kita keren!”

Meutia bengong. Berusaha mencerna.

“Dan kalian semua, luar biasa!” Kak Zizie menatap teman-teman lain dengan gembira. “Luar biasa sudah mau berlatih dengan tekun, berbagi ide bersama, menyiapkan kostum dan perangkat panggung. Kita bukan saja bisa tampil enggak malu-maluin, tapi bisa masuk tiga besar. Hebat, kan?”

Plok… Plok… Plok… Semua teman-teman bertepuk tangan dengan riuh.

“Terimakasih juga buat kalian yang udah datang nonton. Kehadiran kalian bikin kami tambah semangat! Ada yang tepuk tangan dari kursi penonton, hahaha!” Kak Zizi tertawa.

Meutia merasa jengah. “Maaf, aku enggak ikut, Kak,” katanya sungkan.

“Eeeh, enggak apa-apa, kok. Kamu kan memang sudah ada acara. Kami cuma  sedih aja, tadi kamu enggak ada waktu kita ke panggung, terima piala. Enggak ada di foto deh, jadinya,” sahut Kak Zizi.

Meutia tersenyum. Ia menyimpan sesalnya sendiri di dalam hati. Bukan karena tidak ikut ke panggung dan difoto, tapi karena tidak mempercayai dirinya sendiri, bahkan tidak mempercayai teman-temannya. Lebih parah lagi, telah enggan membersamai mereka dalam perjuangan. Bukankah menang hanyalah bonus? Bukankah dalam kekalahan pun ada pelajaran? Bukankah ada kegembiraan dalam kebersamaan?

Sungguh, ini pelajaran berharga untuknya.

Ditulis sebagai bagian dari event 30HM dari NAD (Nulis Aja Dulu), dalam proses untuk diterbitkan sebagai buku berjudul Cerita Meutia di Asrama Putri Fatimah

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Sembilan Belas Tahun

Cerpen September 1999 “Assalamu’alaikum.” Kumsalam,”jawabku. Aku bergeser sedikit memberimu tempat. Wah, kamu cantik sekali. Maksudku, sama cantiknya dengan…