Kepada Google

Zahra (kls 7) membaca buku sebagai bagian dari perayaan Hari Literasi Internasional di sekolahnya.

Hari ini Zahra mengaji. Ustadz menjelaskan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya Penolong. Bukan berarti kita tak boleh meminta tolong pada yang lain, namun semua yang selain Allah punya keterbatasan.

Ustadz lalu bertanya, “Anak-anak, kepada siapa biasanya kalian meminta tolong dalam kehidupan sehari-hari?”

“Kepada orang tua, Ustadz,” jawab seorang teman Zahra.

“Ya betul. Orang tua selalu mau mau menolong kita. Tetapi belum tentu mereka ada ketika kita membutuhkan. Misalnya karena harus bekerja, sedang sakit atau sebab yang lainnya. Nah, kepada siapa lagi?”

“Kepada Google, Ustadz,” jawab Zahra.

Aku yang sedang membaca di dekatnya, menutup mulut menahan tawa. Kepada Google. Walau kini nyaris tiada hari tanpa membuka Google, entah kenapa jawaban itu tetap tak terbayangkan olehku. Masih terpikir olehku bahwa putriku akan menjawab kepada guru, kepada teman, kepada saudara, kepada tetangga.

Kudengar Pak Ustad juga tertawa kecil. “Ya, betul sekali, Zahra. Minta tolong apa sama Google, Zahra?”

“Biar lebih paham pelajaran sekolah,” jawab putriku.

“Ya, betul. Google banyak membantu kita. Tapi apakah semua yang ada di Google sudah pasti benar?”

“Enggak, Ustadz.”

“Iya, kita harus pilah dan pilih lagi ya, mana yang benar dan mana yang hoax. Enggak cuma yang di Google, tapi yang di semua medsos,” kata Ustadz menjelaskan.

Ya, di masa sekarang ini, mencari informasi bukan lagi persoalan. Kita bahkan bisa dibilang telah tenggelam di dalam timbunan informasi. Kadang sampai membuat sesak napas. Tak mampu lagi berpikir rasional. Tak bisa membedakan yang benar dengan yang tak masuk akal.

Panteslah di jadual sekolah Zahra, aku melihat ada mata pelajaran literasi digital, yang melatih anak-anak menemukan dan menyajikan informasi yang terpercaya di rimba internet. Pelajaran yang menurutku bukan hanya diperlukan oleh anak-anak sekolah, tetapi juga oleh para orang tuanya.

Aku sendiri, tetap saja lebih percaya buku. Yang menurutku perlu usaha dan kehati-hatian lebih untuk menghadirkannya ke pangkuan pembaca. Karena itu, kupaksa diri mengajak Zahra mencintai buku, walau bersaing ketat dengan (lagi-lagi) Google, Youtube dan teman-temannya.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Tiga Belas Tahun

“Ibunya pendek napasnya,” bisik dokter kandungan yang cantik itu. Meski diucapkan dengan pelan, tapi cukup jelas terdengar olehku.…