Ketika Berserah

Namanya Sari (bukan nama sebenarnya). Suaranya terdengar ringan di telepon. Sesuatu yang tidak saya sangka. Mengingat kisah hidupnya yang penuh liku.
Sejak pandemi, ia dan suami tidak punya pekerjaan lagi. Setahun lebih, sudah. Maka berdua mereka berusaha apa saja, termasuk jualan ini itu atau menerima jasa titipan. Seperti hari itu.
Suatu hari di bulan April yang lalu, ia dan suami membelikan pesanan makanan untuk pelanggan. Begitu banyak pesanan itu, hingga ia terbayang bisa mendapatkan uang dua ratus ribu rupiah. Lumayan untuk menyambung hidup beberapa hari ke depan. Dipeluknya erat anak balitanya yang duduk di antara suami dan dirinya. Bertiga, mereka melaju pulang dengan sepeda motor yang dikemudikan suaminya.
Tak disangka tak dinyana, tiba-tiba anaknya jatuh terlepas dari pelukan. Ia sendiri kemudian jatuh ke atas aspal, bersama suami dan sepeda motor mereka. Kemudian ia tak ingat apa-apa lagi.
Ketika sadar, rasa syukur yang membuncah di dadanya, mengetahui anaknya baik-baik saja. Hanya ada lecet dan memar yang akan segera menghilang. Tak disesalinya patah tulang paha yang dialaminya, yang juga dialami oleh suaminya. Berdua mereka harus dioperasi segera. Operasi yang menghabiskan harta yang tersisa, karena jaminan kesehatan yang mereka tidak punya.
Belum lagi sembuh, Tuhan mengizinkan pula mereka terkena covid-19. Alhamdulillah tidak parah, katanya. Hanya batuk, pilek, demam dan anosmia. Bisa isolasi mandiri (isoman) di rumah saja.
Ketika kami menghubunginya untuk memberikan bantuan makanan selama menjalani isoman, kalimat yang terucap darinya membuat saya terhenyak. “Allah benar-benar baik ya Mbak, sampai kami bisa dibantu seperti ini.”
Padahal yang kami kirimkan hanya nasi kotak, vitamin, jamu, dan sedikit sembako. Tidak sebanding dengan kehilangan harta dan kesehatan yang mereka alami. Belum lagi beban psikologis karena harus berpisah dengan anak sejak sakit. Ya, bagaimana pula bisa mengurus anak balita dengan paha yang patah?
Ketika saya tak bisa menahan diri untuk mempertanyakan ungkapan syukurnya, ia menjawab dengan manis (bisa saya bayangkan ia tersenyum di ujung telepon), “Saya yakin, bila kita berserah, Allah pasti akan kasih pertolongan, Mbak. Buktinya sekarang, saya enggak minta, tapi Mbak menghubungi saya.”
Saya tak tahu harus bertanya apa lagi.
Sesungguhnya, ketika saya dan teman-teman KAGEOGAMA menjalankan program Extra Fooding untuk membantu mereka yang sedang isoman, kami juga mendapat bantuan untuk mengayakan jiwa sendiri. Saya yakin, anda pernah merasakannya juga, bukan?
Karena itu, terimakasih kami sampaikan kepada anda, para donatur yang telah menitipkan bantuan dan dananya kepada kami, mulai dari Budhe Jamu yang memberikan jamu botolan gratis, sampai Mas Ahmad Arif yang menggalang dana bantuan isoman melalui kitabisadotcom. Diantara keduanya begitu banyak orang baik yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Berkat bantuan anda semua, KAGEOGAMA telah mengirimkan lebih dari 1200 nasi kotak untuk mereka yang menjalani isoman, sejak 21 Juli 2021 sampai sekarang. Belum termasuk kiriman buah, vitamin, obat, masker dan sembako. Semoga Allah memberkahi anda semua dan memudahkan semua urusan kita. Amin.
Jakarta, 7 Agustus 2021
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Salah Duga

Simbah itu datang lagi. Ini sudah yang ketiga kali. Tapi seperti hari sebelumnya, ia sudah terlambat. Seluruh paket…