Gangguan Ibu

Sudah seminggu ini saya bekerja di kamar anak. Berbekal meja lipat, satu bantal untuk menopang punggung, kabel panjang untuk charger laptop, dan karpet merah muda, jadilah tempat kerja darurat di lantai. Walau sungguh merepotkan. Karena saya harus keluar kamar setiap kali bertelepon atau melakukan rapat daring, agar anak saya tidak terganggu.

Meski pun begitu, anak saya -Zahra namanya- masih juga merasa terganggu. Katanya, suara ketikan saya pada papan keyboard mengganggunya. Dering telepon sebelum saya hentikan mengganggunya. Bolak baliknya saya keluar masuk kamar mengganggunya. 

Tetapi saya bertahan dengan mengatakan bahwa belajar itu seharusnya bisa dilakukan di situasi dan kondisi apa saja. Bukankah kalau bersekolah tatap muka, ia akan berada dalam satu kelas dengan dua puluh atau tiga puluh teman lainnya, dengan berbagai tingkah polah yang bisa jadi lebih mengganggu daripada saya? Jadi, ia harus beradaptasi dengan adanya saya di kamarnya.

Tentu itu tidak mudah juga bagi saya. Bagaimanapun, duduk di kursi kerja jauh lebih nyaman daripada melantai melipat kaki. Telinga saya mulai merindukan suara musik yang biasa didengarkan. Mata minus saya mulai protes karena dipaksa menatap layar laptop 13 inchi, sementara ada layar 24 inchi yang dibiarkan menganggur di meja kerja. Tetapi saya tetap bertahan. Kenapa?

Karena saya ingin tahu, bagaimana anak saya beradaptasi di sekolah barunya. Ini jenjang baru baginya, Sekolah Menengah Pertama. Ini sekolah baru baginya, setelah sepuluh tahun sebelumnya belajar di Sekolah Citra Alam yang begitu ia cintai.

Saya ingin tahu, apakah ia bisa berinteraksi dengan teman-teman barunya? Apakah ia bisa berkomunikasi dengan guru-gurunya? Bisa memahami pelajaran yang diberikan? Bisa mengerti tugas apa yang harus dikerjakan? Banyak pertanyaan lain yang menggayuti pikiran sejak ia memulai hari pertamanya. Kapan lagi saya bisa mendapat jawabannya dengan melongok langsung ke dalam kelasnya, kalau bukan di masa belajar dan kerja daring seperti ini?

Maka pagi ini, saya kembali masuk ke kamarnya, walau ini bukan hari sekolah, melainkan kursus Bahasa Inggris saja. Saya bentangkan koran Kompas di belakangnya, dan mulai duduk di atas karpet membaca. Tentu sambil mulai menguping perbincangan di dalam kelasnya.

Namun, tak lama kemudian, Zahra membalikkan kursi menghadap saya, lalu berkata dengan suara lembutnya, “Mama, aku aktif kok kalau lagi belajar.”

Good job, Kakak,” jawab saya sambil mengacungkan jempol.
Dia masih memandang saya. Namun dalam diam. 

Akhirnya saya bertanya, untuk ke sekian kali, “Kakak terganggu Mama di sini?”

Dia mengangguk.

Saya membela diri, untuk ke sekian kali. “Tapi Mama kan tidak bersuara, tidak berkomentar, tidak bikin ribut?”

“Tapi aku merasa Mama nggak percaya sama aku,” tukasnya pelan.

Saya terhenyak. Kata-katanya menancap langsung ke dada. Kesungguhan terpancar dari matanya yang menatap saya. Akhirnya saya tertawa, kalah dan merasa bersalah.

Segera saya lipat koran. Mengembalikan bantal ke atas dipan, lalu memberi kecupan sayang ke ubun-ubunnya. “Oke, oke, Mama keluar. Enjoy your class. Be a good student ya. Love you.”

Love you,” jawabnya sebelum saya menutup pintu.

Dan di sinilah saya. Duduk di kursi teras dengan koran masih terlipat di pangkuan. Mengenang hari pertama anak saya masuk ke Playgroup. Masih tiga tahun usianya ketika itu. Ia tak menangis ketika saya tinggalkan di kelas. Ia baik-baik saja bersama guru-guru dan teman-teman yang masih asing baginya. Sepanjang hari, bahkan seterusnya, hingga mengundang pujian sebagai anak yang mandiri.

Kini ia sudah remaja. Ia perlu ruang privasi. Lebih penting lagi, ia perlu limpahan kepercayaan. Saya jadi malu, membayangkan diri sebagai ibu yang menemani putrinya belajar di ruang kelas tujuh. Kalau kata Naga Bonar, apa kata dunia?

Ternyata saya harus belajar dari ayah dan ibu saya tercinta, yang puluhan tahun lalu melesatkan anak-anaknya dari rumah pada usia remaja, berbekal kepercayaan dan do’a mereka, bersandar pada surat belaka. Semoga saya bisa. Tolong do’akan.

Jakarta, 7 Agustus 2021
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Cake Pertama

Abaikan penampilannya, Yang penting rasanya… Kuhibur diri dengan dua kalimat itu, ketika melihat cake buatanku dan Zahra. Permukaannya…