Turun Mesin

Turun mesin. Sudah beberapa kali saya mendengar istilah ini ditujukan pada perempuan yang melahirkan, dan saya tidak nyaman mendengarnya. Terutama bila disebutkan oleh perempuan sendiri.
Turun mesin, menggambarkan adanya kerusakan parah pada sepeda motor atau mobil. Berbagai komponen bisa jadi perlu diganti. Piston, setang piston, metal mesin dan lain sebagainya. Memerlukan biaya dan waktu untuk memperbaikinya. Saya yakin tak ada pemilik yang mau kendaraannya mengalami kondisi demikian.
Mengapa tubuh perempuan diasosiasikan dengan benda mati yang tak mampu merasa? Tak tahukah sakit yang ditanggung perempuan, ketika tubuhnya dikoyak untuk melahirkan kehidupan? Hingga agama meletakkan surga di bawah telapak kakinya. Hingga agama melarang anak berbantah dengan ibunya, walau sekadar berkata ‘Ah’.
Sebagai penggemar silat, saya lebih suka menggunakan istilah turun gunung. Istilah yang menggambarkan pendekar sakti meninggalkan kenyamanannya bertapa demi menyelamatkan orang banyak. Sejak itu hidupnya tak lagi pernah nyaman.
Begitulah perempuan. Berdarah-darah untuk kehidupan. Bersusah payah menjaga yang ia lahirkan. Dan ketika ia kembali dari pertempuran, sebagian orang hanya mengkhawatirkan kemampuannya untuk menyenangkan pasangan. Seolah-olah nilai perempuan hanya pada kemampuannya di ranjang!
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like