Ransel Kesayangan

Meme yang beredar di media sosial
Dari SMA sampai kuliah, tas yang saya punya hanya ransel. Lupa, SMP dan SD bagaimana, apalagi TK.
Ketika bekerja dan berkeluarga, nambah dengan tas-tas tangan atau selempang, terutama karena suami usul agar saya belajar bersikap anggun dan elegan. Tapi tetap saja, ransel yang jadi kesayangan utama. Ada ransel besar untuk bawa laptop yang besar. Ada ransel sedang untuk bawa laptop mungil. Ada ransel yang cuma muat naruh dompet dan tisu.
Kenapa ransel? Untuk memberi keadilan pada kedua bahu tersayang. Agar keduanya memikul beban (kehidupan) yang sama, tanpa salah satu menjadi iri. Kalaupun beban itu terlalu berat buat mereka, ada punggung yang siap sedia mendukung. Tambahan lagi, kedua tangan bebas merdeka melakukan banyak tugas lainnya, termasuk menggendong anak (duluuuu), memecah sampel batuan di lapangan (lebih lama lagi dulunyaaaa), atau sekadar pilih-pilih barang belanjaan.
Berjuang dalam Transjakarta setiap hari (duluuuuu, sebelum pandemi dan WFH), atau dalam Kopaja P20 (belasan tahun lalu), ransel menjadi pelindung dada dalam desakan dan himpitan (tak sengaja) penumpang lain. Perlindungan sama diberikannya juga ketika saya naik ojeg offline dan online, dari persentuhan tak sengaja akibat sentakan rem atau jalanan tak rata.
Satu manfaat yang belum pernah saya rasakan sampai sekarang, ditaksir cowok karena lekukan bahu yang ditimpa ransel setia. Jadi pengen tahu, apakah ada teman yang punya pengalaman?
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like