Gurauan atau Perundungan?

Gambar dari Google.com
Pernah bercanda tapi yang diajak bercanda malah tersinggung? Saya pernah. Pada seorang teman yang tidak bisa melafalkan huruf R dengan sempurna. Maka saya tanyakan apakah dulu sebelum turun ke bumi, di surga ia bolos saat pembagian vitamin R. Tidak saya duga, alih-alih tersenyum, ia memandang saya tidak senang. Dengan lugas lalu mengatakan bahwa tidak sepantasnya saya mengejek ketidakmampuannya itu. Lalu ia melangkah meninggalkan saya begitu saja.
Reaksi awal saya? Terkejut, tentu. Tidak menyangka ia akan marah seperti itu. Dalam hati saya menuduh ia baper, atau terbawa perasaan. Kenapa tidak bisa santai saja? Bukankah lelucon akan mencairkan suasana? Apalagi candaan serupa pernah sukses meramaikan suasana, di kesempatan lain, bersama teman lain. Waktu itu semua tertawa. Tidak ada yang tersinggung. Atau… saya saja yang tidak tahu?
Maka setelah merenung, saya sadar ia pantas untuk marah. Karena saya bukan mengajak ia bercanda, tetapi menjadikannya bahan candaan. Ternyata apa yang kecil buat saya, bisa jadi besar buat orang lain. Apa yang biasa buat saya, mungkin luar biasa buat orang lain. Apa yang terasa mengganggu saya, akan mengganggu orang lain juga.
Ya, bukankah saya juga sering terganggu dengan komentar orang? Terutama mengenai postur tubuh saya yang kecil mungil. Sebagian menyatakan keheranan. Sebagian menjadikannya gurauan. Sebagian memberikan anjuran. Sebagian kecil sengaja melakukan perundungan. Begitu pun, apa pun niat mereka, hati saya menjadi tidak nyaman. Saya bisa terganggu seharian karenanya.
Kurus banget, kurang gizi, ceking, kerempeng, tinggal tulang berbalut kulit, adalah sebagian ucapan yang ditujukan untuk saya. Sejak masih sekolah sampai sekarang. Ditambah dengan kulit yang berwarna sawo matang, lengkaplah citra diri yang dulu membuat saya tak pernah merasa cantik sebagai remaja.
Untungnya, saya punya bekal kepercayaan diri. Kasih sayang, cinta tanpa syarat, juga pujian dari orang tua. Bagi mereka, saya adalah anak yang pandai, baik budi, dan berwajah manis. Hitam manis, lebih tepatnya. Mereka tidak pernah mengomentari saya secara negatif. Maka ucapan atau tindakan tak menyenangkan yang saya dapat di luar rumah, sering bagai membentur perisai yang melindungi hati saya. Meski begitu, sebagian lolos juga sampai ke hati. Kalau sudah begitu, saya bisa bermuram dan sedih sepanjang hari.
Hingga saya sadar, bekal dari orang tua harus selalu saya tingkatkan. Saya tak bisa hanya mengandalkan cinta mereka. Saya pun harus mencintai diri saya sendiri tanpa syarat. Harus bersyukur lebih sering. Harus menghitung nikmat yang tak ada habisnya, termasuk nikmat sehat yang diberikan-Nya sampai sekarang. Maka saya berhenti menangisi angka timbangan badan yang jauh dari normal.
Ketika saya benar-benar nyaman dengan diri sendiri, saya bisa tertawa ketika berat badan saya dijadikan lelucon. Pura-pura takut diterbangkan ketika ada angin kencang. Pura-pura takut jarum timbangan tak bergerak saking ringannya saya. Bahkan bisa menjawab dengan enteng berapa sebenarnya berat badan saya, pertanyaan yang dulu selalu saya hindari. Lalu dilanjutkan dengan menikmati ekspresi terkejut mereka yang mendengar jawabannya. Hati saya tak lagi bergoyang ketika disamakan dengan anak sekolah dasar. Ya, saya tidak lagi merasa terganggu. Walau itu sungguh memerlukan waktu. Dari saya masih sekolah sampai sekarang punya anak yang bersekolah.
Itu saya. Yang dicintai dan merasa diterima di rumah. Yang mengalami perundungan dalam skala ringan. Namun tetap perlu waktu panjang untuk bisa membebaskan diri. Bagaimana dengan mereka yang tidak punya bekal sebaik itu? Yang mendapat tuntutan untuk menjadi sempurna justru dari rumah? Yang mengalami perundungan lebih buruk dari saya? Saya kira, gurauan sedikit saja akan membuka tumpukan luka.
Maka saya tulus meminta maaf pada teman yang saya ceritakan di awal tulisan. Saya berterimakasih karena ia telah berkenan mengingatkan saya. Saya akan mencoba untuk lebih berhati-hati dalam bercanda. Mengingat-ingat untuk tidak menjadikan bentuk tubuh seseorang, caranya berbicara, caranya berpakaian, keadaan keluarganya, atau hal lain yang bisa membuatnya malu dan tak nyaman, sebagai bahan gurauan. Tidak juga memberi saran dan nasehat tanpa diminta. Sayangnya saya masih sering lupa. Maka mohon saya diingatkan, bila kembali melampaui batas.
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like