Masuk Wisma Atlit

Wisma Atlit dari jendela Tower 4 lantai 11. Foto oleh dhanifoto.wordpress.com
UGD Wisma Atlit masih sepi ketika kami tiba. Hanya ada 1 pasien di ruang pendaftaran. Segera kami meletakkan kopor-kopor dan barang bawaan lain di pojok ruangan, lalu melapor ke meja pendaftaran. Kuserahkan salinan surat rujukan dari Puskesmas, yang telah dilengkapi dengan Salinan KTP, kartu keluarga, kartu BPJS dan dokumen tes usap PCR dengan hasil positif.
Gelang pengenal di Wisma Atlit. Maaf difotonya setelah lecek, hehehe

Kembali kusampaikan permintaan agar aku, suami dan anakku bisa mendapatkan kamar yang sama. Permintaan ini sudah aku sampaikan sebelumnya kepada petugas satgas covid kelurahan, juga pada relawan “Lapor Covid-19” yang membantu kami hingga akhirnya bisa memperoleh tempat di wisma atlit. Mas petugas yang menggunakan APD lengkap itu mengangguk mengiyakan. Ia lalu memasangkan gelang kertas berwarna ungu ke tangan kami bertiga. Warna gelang menunjukkan tower yang akan kami tempati. Tower nomor 4. Nama dan nomor rekam medis kami sebagai pasien tertulis di sana.

“Silahkan ke meja dokter ya, Bu,” katanya.
Kami pindah duduk ke depan meja dokter. Ada tiga orang dokter yang berjaga waktu itu. Masing-masing kami diwawancara mengenai kondisi dan gejala yang dirasakan, dan obat-obatan atau vitamin yang telah atau sedang dikonsumsi. Kebetulan kami sudah sempat berkonsultasi ke dokter spesialis paru di salah satu rumah sakit swasta sebelumnya, dan mendapatkan obat serta vitamin darinya.
“Silahkan dihabiskan obat dan vitaminnya. Nanti dari sini akan menyesuaikan,” kata dokter perempuan yang mewawancaraiku.
Kami lalu diminta menunggu. UGD mulai ramai dengan pasien lain yang berdatangan. Untunglah tak lama kemudian, kami dipanggil masuk ke ruangan lain. “Ambil darah ya, Bu, untuk tes lab,” kata dokternya. Terjadilah drama, karena putriku Zahra paling takut disuntik. Sama seperti mamanya, sebenarnya.
Untuk menghindar, ia mengajukan berbagai pertanyaan kepada Pak Dokter. Kenapa harus disuntik. Untuk apa darahnya. Aku maunya ambil darah seperti waktu rapid tes saja. Tajam ngga jarumnya. Bisa ngga ambil darahnya tanpa jarum saja. Dan lain sebagainya. Herannya aku, Pak Dokter yang kelihatannya masih muda itu, melayani semua pertanyaan dengan sabar. Selesai menjawab, ia membujuk. Menjawab lagi, membujuk lagi. Zahra masih bergeming.
Lalu datang dokter kedua, ikut membujuk putriku. Ngga mempan juga. Datang dokter ketiga, ikut membujuk. Akhirnya, “Mohon maaf, kita paksa saja ya, Bu,” bisik dokter padaku.
Aku mengiyakan. Banyak yang ngantri, Naaak. Terpaksalah dua orang dokter dibantu aku, memegangi Zahra sementara dokter yang satu mengambil darahnya. Zahra menangis. Kelihatannya karena marah, alih-alih karena sakit disuntik. Begitu selesai, Pak Dokter segera memberikan sekotak snack pada Zahra sambil minta maaf. Duuh, terimakasih banget ya Bapak dan Ibu Dokter.
Aku dan suami juga melakukan rekam jantung. Untunglah Zahra tidak perlu melakukannya, sehingga tidak perlu ada drama lagi. Ronsen dada yang kami lakukan kemudian di sore harinya, ternyata tidak menakutkan buat Zahra, sehingga bisa dilakukan dengan mudah.
ruang duduk di unit kami, wisma atlit. Nyaman sekali.

Selesai dengan semua pemeriksaan di UGD, seorang perawat laki-laki kemudian mengantar kami dan beberapa pasien lainnya ke tower 4. Ternyata kami semua akan menempati lantai yang sama, lantai 11. Mas perawat itu begitu baik, membantu membawakan salah satu kopor kami. Tangan kami tidak cukup untuk menyeret tiga buah kopor dan beberapa tas kain yang berisi berbagai bekal dan ‘perlengkapan perang’ untuk 10 atau 14 hari ke depan, hehehe.

Di lantai 11, kami diserahterimakan kepada perawat lantai, yang lalu mengantarkan kami semua ke kamar masing-masing. Alhamdulillah, aku, suami dan putri kami ditempatkan dalam satu kamar yang sama, atau menurutku, satu unit yang sama.
Dalam unit ini, ada satu ruang duduk yang dilengkapi dengan sofa coklat yang cukup nyaman dengan 2 bantal, meja dan buffet. Nantinya, kami menyusun bekal makanan kecil, minuman, obat dan vitamin di situ, termasuk buah-buahan dan berbagai kiriman teman-teman yang baik hati. Ada 2 stop kontak listrik di sini. Juga, oh My God, modem wifi. Pentiiiiing, hehehe. Alhamdulillah.
Modem wifi, pengusir kebosanan.
Ada dua kamar tidur mungil. Masing-masing berisi satu dan dua tempat tidur, satu meja nakas, dan lemari pakaian, dan satu stop kontak.
Kamar tidur dengan dua tempat tidur
Satu kamar mandi. Didalamnya ada satu ember. Peninggalan penghuni sebelumnya atau memang fasilitas dari Wisma? Aku tidak tahu. Yang jelas, kamar mandi ini dilengkapi dengan closet duduk, wastafel, dan pancuran mandi dengan air hangat. Sayang lantainya kurang bersih. Nantinya, seorang teman tersayang mengirimkan sikat kamar mandi, cairan pembersih lantai, sandal jepit untuk di kamar mandi dan lain-lain, termasuk tambahan ember. Lebih mudah mencuci baju kalau punya dua ember kan? Di sini, penghuni memang mencuci sendiri.
Ada tempat cuci jemur yang cukup terbuka. Terang benderang oleh sinar matahari di siang hari. Dilengkapi wastafel dan meja dapur, keran di area cuci, gantungan handuk, dan jemuran dari tali rafia yang dipasang oleh penghuni sebelumnya. Sungguh membantu. Oh ya, ada 2 stop kontak di area ini. Kami memasang ketel listrik di sini, hand blender dan pemeras jeruk. Minum air jeruk nipis, air hangat dan jus buah, insya Allah tetap bisa dilakukan.
Ohya, tidak tersedia remote AC di sini. AC bisa dinyalakan atau dimatikan dari MCB yang terpasang di dinding ruang duduk. Tapi kan perlu mengatur suhu? Untunglah kami punya telepon genggam Xiaomi yang bisa digunakan sebagai remote AC.
Selesai memperhatikan ruangan dan beres-beres barang bawaan, perut mulai keruyukan. Wah, kebagian makan siang tidak ya? Mengingat kami masuk ruangan sudah di jam 12. Tanya, ah, ke perawat.
Diniatkan bersambung…
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like