Pelukan Hangat

Kemarin malam…
Sudah jam 12 malam. Bukannya segera tidur, Zahra malah masuk ke kamarku dan rebahan di kasur.
“Kakak mau Mama temani tidurnya?” tanyaku heran. Mungkin kesedihan karena ditinggal Opung selamanya, membuat ia perlu teman.
“Nggak,” jawabnya
“Atau, Kakak mau nemanin Mama tidur?” kataku membalik pertanyaan. Siapa tahu karena merasa sudah besar, ia sungkan minta ditemani. Biarlah aku bersikap seolah aku yang perlu.
Ia menggeleng. “Nggak, Ma. Mama temanin Papa aja,” katanya sambil bangkit duduk dan memandang pintu kamar mandi. Papanya sedang mandi di dalamnya.
“Kenapa?”
“Because Papa needs love. Papa kan sedang sedih banget, Ma.”
Aku memutar tubuh dari cermin untuk memandang putriku. Kebaikan apa yang pernah kubuat hingga Tuhan berkenan memberiku anak yang penuh pengertian dan berhati lembut ini?
Ketika tak lama kemudian Papanya keluar dari kamar mandi, Zahra turun dari kasur, lalu tanpa kata memeluk papanya, lama.
Aku diam terpaku. Putriku, tahu betul cara menghangatkan hati kami…
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Damai

Kupandangi wajahnya. Terlihat damai dalam tidurnya. Kakinya yang terbalut perban, seperti tak mengganggu tidurnya. Istrinya setia menemani disampingnya.…