Dia Orang Baik

Bersama menjenguk alm. Slamet tahun lalu (ki-ka): Danang, Agus Heru Purwanto, Prawoto Syuhada, dan aku

Dering telepon mengusik kenyamananku berleha-leha. Ah, baru saja aku berbaring, meluruskan punggung di sofa, kok sudah ada panggilan. Maka kuabaikan suara itu, sampai kemudian berhenti sendiri. Paling juga telemarketing, pikirku malas.

Namun dering itu terdengar kembali. Panggilan kedua. Walau enggan, akhirnya kuraih telepon genggam di meja, dan menjadi heran melihat nama yang tertera di layar. Ada apa Ujay Sunjaya Eka Saputra meneleponku? Dia bukan tipe teman yang akan menelepon untuk sekadar say hi nggak penting, apalagi di hari Minggu pagi.

“Tan, belum baca wa?” tanyanya begitu aku memencet tombol terima.

“Belum, ada apa?” Aku mulai berdebar.

“Danang meninggal.”

“Masya Allah! Apaaa?” Aku langsung terduduk mendengarnya, lalu tak mampu berkata apapun. Ujay diam sejenak di ujung sana, mungkin memberi waktu untukku mencerna informasi yang disampaikannya.

“Kapan?” tanyaku lemah.

“Tadi pagi. Habis lari pagi.”

Kulirik jam di dinding. Sudah jam 10 pagi. Berapa lama sudah aku ketinggalan informasi?

“Tolong pesanin karangan bunga ya Tan. Alamat udah ada di grup.”

Aku mengangguk tanpa suara, sebelum kemudian sadar Ujay tak bisa melihat persetujuanku.

“Ya, gw kerjain,” kataku, menahan luapan perasaan.

Telepon kututup. Tak sempat merasa, jariku bergerak membuka wa grup angkatan. Sudah ramai ungkapan dukacita yang disampaikan teman-teman. Mataku menyusur kata mencari alamat rumah duka. Ini dia. Cinere. Sungguh dekat dengan rumahku. Bisakah aku pergi melayat?

Ah, urus dulu pesanan bunga. Pesanan yang tak kusangka akan kulakukan lagi. Baru setahun lalu bunga yang sama kupesankan untuk alm. Slamet, sahabat seangkatan yang meninggalkan kami setelah berjuang melawan kanker di tubuhnya. Rasanya, seperti baru kemarin.

Begitu urusan bunga beres, aku kembali membaca informasi di grup. Prawoto sudah tiba di rumah duka dari pagi, tapi ia melarang siapapun untuk melayat. “Belum diizinkan,” katanya. Semua pihak masih menunggu hasil pemeriksaan covid-19 pada almarhum. Walau kami yakin ia sehat sepenuhnya dari covid-19, tetapi prosedur rumah sakit harus dijalankan.

Rana yang sudah sampai dari Bekasi, hanya bisa memandang ke dalam komplek perumahan dari pintu gerbang. Ia tak diizinkan masuk ke rumah duka, walau hanya untuk ke halaman. Sedih. Ia terpaksa pulang lagi.

Informasi mengalir begitu cepat. Bukan hanya dari grup angkatan, tapi juga grup-grup wa lain yang mengenal almarhum, termasuk grup kantorku. Alhamdulillah, tes covid-19 memberi hasil negatif. Maka rencana pemakaman yang tadinya simpang siur pun menjadi jelas. Jenazah akan dimandikan dan dikafani di Rumah Sakit tanpa protokol covid-19, lalu dibawa pulang ke rumah duka Cinere untuk disholatkan, dan segera dibawa ke Yogyakarta untuk dimakamkan.

Waktu yang sempit tak memungkinkan aku dan banyak teman lain untuk tiba tepat waktu di rumah duka, walau izin melayat sudah diberikan. Namun Alhamdulillah, Agus HP masih bisa meraih kesempatan itu dalam kesempitan. Ia sudah langsung meluncur ke Cinere begitu membaca info hasil pemeriksaan covid yang negatif. Darinya kami seangkatan mendapatkan foto-foto di rumah duka. Tapi itu rasanya belum cukup.

“Bagaimana kalau kita adakan tahlilan online untuk almarhum?” usul Sarju.

Usulan itu bagai air yang menyejukkan, mengisi ruang kosong di hati-hati kami. Bagaimana tidak? Danang pergi begitu tiba-tiba, padahal sebelumnya ia selalu terlihat sehat. Kami yang di Jakarta ini tak punya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada jenazahnya. Sedangkan ambulan yang membawanya ke Yogya diperkirakan akan sampai tengah malam nanti, dan pagi-pagi sekali sudah akan langsung dibawa ke pemakaman.

Maka usulan itu segera bersambut. Akun Zoom dipinjamkan oleh Mas Tomo Sulastama (1993). Flyer undangan dibuatkan Suwasno (2008). Tahlilan dipimpin oleh Sarju (1995), dan tausiyah disampaikan oleh Aa Gatot (1974). Sambutan oleh Kepala Departemen Teknik Geologi, Mas Heru Hendrayana (1979) dan Ketua Kageogama, Mas Anif Punto Utomo (1983).

“Sekalian mendoakan almarhum Pak Tjoek, ya Tan,” pesan Mas Anif sebelum acara dimulai. Ya, baru tiga yang lalu alm. Pak Tjoek Aziz Suprapto (1974) juga meninggalkan kami, setelah menderita sakit belasan tahun.

Dan begitulah, dalam tahlilan yang dimulai pada pukul 20.05, 80 orang duduk membaca doa bersama, untuk dua orang alumni terbaik yang telah mendahului. Dalam kesadaran, bahwa masing-masing diri dalam posisi mengantri, dipanggil untuk menghadapNya sewaktu-waktu.

Di penghujung acara, kami mengenang kedua almarhum dari kesan-kesan yang disampaikan. Pak Tjoek yang sabar dalam sakitnya, yang senang berbagi ilmu, yang mendaki gunung sampai ke Alpen, yang pintar memasak, yang ceria, yang meninggalkan nama baik.

Danang yang suka meminjam catatan Rana (siapa siy yang nggak suka minjam catatan Rana?); Danang yang suka menolong teman, memberi tumpangan pada teman-teman yang tidak punya kendaraan ketika fieldtrip atau sekadar pulang ke kos; menjemput Rana di bandara Oman pada pagi buta; mewujudkan hibah Pompa Angguk untuk Departemen Teknik Geologi, Danang yang baik hati.

Danang yang baik hati. Ya, aku termasuk yang merasakan kebaikannya, yang sering sekali menumpang kendaraanya ketika fieldtrip, yang diundang ke rumahnya ketika awal tiba di Jakarta, yang disambut ramah setiap bertemu di kantornya. Ia memang orang baik.

Selamat jalan, Sahabat. Kebaikanmu, semoga mewujud sebagai teman bagimu di alam barzakh. Kebaikanmu, moga jadi wasilah tersedianya tempat mulia bagimu di sisi-Nya, selamanya. Amin.


0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like