Tanda Tangan

“Kak, bukunya tolong ditandatangani, ya,” kataku sambil menyodorkan buku-buku yang baru tiba dari penerbit.

“Wah, jangan, Ma.”

“Kenapa?”

“Nanti aku merasa terkenal, trus aku jadi sombong gitu,” jawabnya (sok) serius. Aku nyaris protes, tapi batal begitu melihat senyum isengnya. Sambil tertawa (mungkin karena melihat wajahku yang sudah siap-siap mengeluarkan nasihat), ia mengambil pulpen dari laci mejanya. Lalu menggoreskan tanda tangannya di lembar pertama buku-buku itu.

Tumpukan Buku, oleh Nouruzzahra

Bukan tanda tangan juga siy kayaknya ya. Hanya tulisan namanya, yang coba ia tuliskan dengan cara bersambung (menulis sambung sepertinya tidak dipelajari lagi di sekolah ya, sekarang). Begitupun, aku salut. Aku sendiri rasanya baru membuat tanda tangan di masa Sekolah Menengah Atas. Itupun karena mau bikin KTP, hehehe.

“Sudah, ya, Ma,” kata Zahra sambil mengembalikan buku-buku yang sudah ditandatanganinya. Aku tersenyum, mengucapkan terimakasih, dan bergegas membungkus semuanya satu demi satu. Hari ini semuanya harus dikirim kepada para pembeli.

Terimakasih banget ya, buat teman-teman yang sudah membeli buku karya Zahra dan teman-temannya: Komik Petualangan Mengasuh Adik, My Mom, Nairin si Rambut Biru, dan Dari Sumur Tua Menuju Puncak Bintang.

Ssst…, insya Allah dalam seminggu ini, buku Petualangan ke Pulau Naga, akan siap cetak. Yuk, di-order lagi. Isinya kumpulan cerpen karya Zahra sendiri lho 😊.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Instan

“Ma, sambalnya instan ya?” tanya Zahra. “Nggak,” jawabku sambil mengambil dua sendok sambal dari kotak kemasan di kulkas,…