Bersikap Adil

“Papa, you’re my only hero,” kata Zahra dengan wajah yang manis sekali.

“Oooh, it’s so…. sweet,” balas papanya, yang kemudian bangkit dari kursi makan dan mencium pipi si Buah Hati kanan dan kiri.

Zahra menoleh ke arahku, dengan wajah (yang kurasa seperti) membujuk, lalu berkata, “And Mama is my woman hero.”

Aku hampir tersedak, ingin ketawa.

Entah bagaimana, ketika aku tak pernah pusing dengan urusan berbuat adil pada anak (karena sampai hari ini anakku baru satu), Zahra selalu ingin berbuat adil pada ayah ibunya. Misalnya bertanya, apakah ibunya punya sepatu baru, ketika melihat ayahnya baru beli sepatu; menyimpankan makanan untuk ayahnya, agar tak dihabiskan oleh ibunya; mencium ayahnya, setiap kali setelah mencium ibunya; dan seperti yang barusan, memastikan ayah ibunya mendapatkan pujian yang sama, walau kadang salah satunya terkesan maksa, hahaha.

Pernah, ketika ditanya, Zahra lebih senang main dengan siapa, dia menjawab, dengan Papa (Papa suka bercanda, katanya). Namun dia segera meneruskan, “Main sama Mama juga asyik kok, tapi… Mama orangnya lebih serius.” (Tidakkah itu artinya: sebenarnya yang asyik itu main sama Papa, tapi aku sayang juga kok sama mama, walau mama kurang asyik diajak main).

Darimana ya, ia bisa punya inisiatif untuk bersikap adil? Adakah itu bawaan pada diri setiap orang? Rasanya aku tak pernah berpura-pura merajuk atau menunjukkan wajah tak senang, kalau ia sedang menunjukkan rasa sayang pada ayahnya, yang akan bisa membuatnya sungkan.

“Bilang terimakasih, dong Ma,” tegur suamiku.

Yayaya. “Makasih ya Kak,” kataku. Ia tersenyum. Aih, hati putriku memang begitu lembutnya. Sayap nyamuk yang patah pun membuatnya duka, kaki semut yang lepas pun membuatnya gelisah. Apatah lagi hati ibunya.

Herannya, masih saja aku sampai hati memarahinya, bersuara tinggi padanya, untuk setiap kesalahan kanak-kanaknya. Mungkin, ya, mungkin, itu bahkan bukan suatu kesalahan. Ia hanya melakukan apa yang ia pikir perlu dilakukan. Aku hanya perlu meluruskan, cukup dengan percakapan. Tanpa muatan emosi atau ancaman hukuman. Aku yang, sungguh tidak adil padanya.

Timbangan Hukum, oleh Nouruzzahra
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like