Instan

“Ma, sambalnya instan ya?” tanya Zahra.

“Nggak,” jawabku sambil mengambil dua sendok sambal dari kotak kemasan di kulkas, dan memindahkannya ke mangkuk kecil.

“Tapi itu kan sambalnya sudah jadi?” tanyanya lagi.

“Iya, tapi ini kan bukan sambal instan. Ini dimasak mbak sebelum pulang. Instan itu yang di botol itu lho, yang ada pengawetnya,” kataku sambil meletakkan sambal itu di meja makan. Pas jam makan siang nanti, sambal ini sudah akan mencair tanpa aku perlu memanaskannya di atas kompor atau microwave. Zahra memang suka makan dengan sambal.

“Ya, tetap aja untuk mama itu instan. Kan jadi cepat mama nyiapin sambalnya,” kata Zahra sambil ngeloyor ke ruang tengah.

Aku tertegun. Iya juga ya. Buatku, ini ya sambal instan, hahaha.

Termasuk risoles dan pastel yang kubeli dari tetangga depan rumah, aku tinggal goreng. Termasuk dimsum yang kubeli dari tetangga sekelurahan, aku tinggal kukus. Juga mpekmpek dari teman sekantor, dan banyak cemilan lainnya.

“Yaaah, kalau semua rajin masak, nanti siapa yang jadi pembeli?” pikirku membela diri. Segera kutegakkan kepala dengan lega, kembali bekerja di depan laptop, tentu sambil mengunyah onde-onde lezat yang baru kugoreng, yang juga instan, hehehe.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Pelukanmu

“Anak saya menangis, karena saya tak mau memeluk dan menciumnya sekarang ini,” tulis seorang teman di pesan whatsapp.…