Belajar Menulis Novel

Sepupuku Mfathiar yang baik hati, memberikan pelatihan menulis untukku dan Zahra, putriku. Beberapa orang lainnya ikut bergabung di sana. Kutanyakan, bagaiman caranya bisa menulis novel? Ia sudah menulis belasan novel. Aku tak terbayang bisa menulis puluhan bahkan ratusan halaman seperti itu.

Salah satu tips yang diberikan, berlatihlah membuat deskripsi. Sesuatu yang bisa dituliskan dalam satu kalimat, sebenarnya bisa dipecah penceritaannya dalam satu, bahkan beberapa paragraf.

Ia lalu memberi contoh. kemudian memberi tugas, coba kembangkan kalimat ini menjadi beberapa paragraf:
1. Ibu memasak dan aku memakan hasil masakannya
2. Wajahnya menyeramkan

Segera kukerjakan tugas itu begitu ada kesempatan. Hasilnya, lumayanlah katanya. Hanya saja kritiknya, untuk yang nomor satu, aku hanya cerita tentang makannya, tidak tentang yang memasaknya, hahaha. Yang nomor dua, malah lebih sulit lagi buatku mencari idenya.

Kuusik Zahra yang sedang mengerjakan sesuatu yang lain. “Ayo, Kak, coba baca dulu wa dari Tante Tia, ada tugas.”

Dan inilah hasilnya, yang ia tulis tanpa ‘berpikir’, langsung ngetik di wa. cukup untuk membuatku takjub, terlebih lagi karena, ia bisa menggabungkan dua topik itu dalam satu tulisan. Huaaaa… Aku jadi iri… 😀

Aku post tanpa editing ya….

***

mama ku memasak nasi goreng yang berbentuk seperti kelinci, kucing, muka kartun, dan lain lain, enak sekali rasanya, tapi aku tidak terlalu tega memakannya. mama juga suka bikin nasi goreng mentega, juga enak.

sebenarnya, semua masakan mama enak sekali. kucoba semuanya dengan lahap. papa juga sangat menyukai nya. kalau teman-teman ku mengunjung. mama pasti akan memasak masakan yang enak sekali.

suatu pagi, aku bangun seperti biasa dan mandi. sehabis itu aku sarapan. papa sudah pergi bekerja, dan mama membawakan sesuatu. dari baunya pasti nasi goreng, ketika kulihat, yes! memang nasi goreng favorit ku! tapi ketika aku lebuh fokus lagi, ternyata mama membuat muka yang berbentuk seperti manusia biasa. mata bulat yang besar menonjol seperti nasi gorengnya sedang memperhatikan ku. hidungnya yang lancip juga menonjol. bibir merahnya terlihat datar. alisnya tebal dan juga datar. seram sekali mukanya, hiiii.

aku langsung mengambil sendokku dan mumbuatnya seperti nasi goren biasa, mama bingung mengapa aku merusaknya. mama pun bertanya. aku menjawab karena seram mukanya. mamaku langsung tertawa. aku jadi cemberut. tapi, sampai sekarang aku belum bisa menghapuskan nasi goreng itu dari otakku.

-Zahra

***

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like