Setelah Dua Puluh Tahun

Tiap kali membuka jendela, lagu Didi Kempot terdengar dari rumah tetangga. Mengalir di udara, menari-nari di ruang kamar asrama, masuk telinga dan akhirnya mengendap di dada. Walau hanya bisa menangkap beberapa kata, tapi ternyata melekat kuat melintas masa.

“Ning setasiun balapan, kuto Solo sing dadi kenangan, kowe karo aku….”

“Sewu kuto uwis tak lewati, sewu ati tak takoni…”

“Namanya lagu campursari,” kata temanku. Ia berasal dari Lubuk Linggau Sumatera Selatan, tapi sangat menyukai lagu-lagu Didi Kempot yang berbahasa Jawa ini.

“Emang ngerti artinya?” tanyaku.

“Nanti kalau sering dinyanyiin, jadi ngerti,” katanya yakin. “Musiknya kan juga asyik.”

Aku tersenyum. Ya, kenapa tidak? Lagu-lagu Barat itu juga banyak yang tak kupahami arti liriknya. Tapi kalau iramanya enak, senang saja mendengarnya. Maka aku pun ikut-ikutan menikmati suara Didi yang ternyata mendendangkan jeritan hati.

Namun setelah lulus kuliah dan meninggalkan asrama Yasma Putri Syuhada Yogya, lagu-lagu Didi Kempot tak terdengar lagi olehku. Entahlah, apakah tetangga belakang kamar kami itu, masih terus memutar lagu-lagu yang sama itu setiap pagi.

Tiba-tiba, lebih dari dua puluh tahun kemudian, lagu-lagu itu terdengar kembali olehku. Kali ini bahkan lebih nyaring rasanya. Di radio, di televisi, di Youtube, di hati. Wow, ternyata aku masih hapal beberapa kata yang dulu sempat terpatri. “Ning setasiun balapan…”

Aku tak mengerti bagaimana lagu yang sudah dinyanyikan lebih dua puluh tahun lalu, kini mencuat kembali bahkan mencapai puncak popularitasnya. Yang kutahu, aku sungguh salut pada penyanyinya. Begitu panjang jalannya mendaki. Begitu lama waktu yang ia beri. Namun ia tetap gigih meniti. Hingga kulihat ia menyanyi di televisi, sebagai selebriti penuh puja-puji. Bukan hanya penonton seusia mertuaku yang menikmati, tapi juga para muda mudi.

Hingga tanggal 5 May kemarin kulihat berita di televisi, Didi berpulang ke haribaan Ilahi. Begitu tiba-tiba, begitu mengejutkan hati. Tiada kudengar berita ia sakit. Yang kudengar justru baktinya bagi negri untuk mengatasi wabah covid.

Tuhan, Kau panggil pulang orang yang sedang berada di puncak mimpinya. Kau minta kembali orang yang sedang banyak dirindukan. Kau cukupkan waktu ia berbuat baik bagi sesama. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun.

Selamat jalan, Didi Kempot. Kau telah mengajak orang-orang merayakan patah hati mereka. Kau telah menarik keluar orang-orang yang bergelung di kamar karena kesedihannya. Kau telah banyak berbagi pada sesama. Semoga amal baikmu menjadi kendaraan yang nyaman dalam perjalananmu di sana. Do’a keluarga dan pecinta menjadi teman yang menyenangkan bagimu. Semoga campur sari, jadi populer juga di sana. Amin.

Note.
Gambar dari web liputan6.com

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Keadilan Ayah

Ini sepenggal kisah seorang ayah, yang mencintai keempat anaknya sepenuh hati. Bagai hatinya terbelah empat sama besar. Masing-masing…