Self Editing

Tiap kali menulis, saya suka melakukan pengeditan sendiri. Tanda baca yang kurang tepat, huruf besar yang salah tempat, atau kata yang kurang pas.

Akibatnya, saya perlu waktu yang lama untuk menyelesaikan satu tulisan. Walau untuk tulisan yang pendek saja. Misal untuk sekedar dipajang di dinding Facebook.

Dan saya jadi gregetan. Apalagi kalau melihat teman-teman yang rajin sekali memajang tulisan. Nyaris setiap hari. Tulisan mereka renyah, mengalir dan enak dibaca. Kok bisa ya, mereka menghasilkan tulisan begitu bagus setiap hari?

Padahal yang saya mau tulis hanyalah hal yang ringan-ringan saja. Pengalaman keseharian saya, atau orang-orang terdekat saya. Tapi kata-kata seperti membeku di kepala, tak mau mengalir ke jari untuk dituliskan.

Pemecahannya saya dapatkan ketika saya ikut kelas dan komunitas menulis. Jenius Writing, Kagama Virtual Writing, Rumedia, dan BukuinAja. Mereka semua bilang, selesaikan dulu tulisanmu. Baru kemudian mengedit.

“Menulis itu kerjaan otak kanan, mengedit itu kerjaan otak kiri. Biarkan mereka bekerja bergantian,” begitu kata coach Lutfi. “Kalau kamu sudah mengedit sebelum selesai menulis, otak kananmu akan berhenti mengirimkan ide. Dan tulisanmu akan berhenti di situ.”

Ia membuktikannya. Kami, para peserta training, diberi waktu 10 menit untuk menulis. “Tulis cepat,” katanya. “Jangan berpikir.”

Perintah yang aneh, pikirku. Bagaimana bisa, menulis tanpa berpikir?

Tapi sungguh ajaib. Ketika satu kata kuketikkan, kata-kata lain berhamburan keluar dari kepalaku, seolah berlari mengejar waktu yang hanya 10 menit.

“Jangan mengedit. Biarkan salah ketik. Lupakan tanda baca. Tulis saja!” Suara lantang coach Lurfi menggema di kelas.

“Sepuluh, sembilan, delapan,” suaranya kini menghitung mundur. Dan semakin deras kata-kata berlompatan ke layar laptop, seiring waktu yang nyaris habis.

“Selesai! Berhenti mengetik!” perintahnya.
Dan aku takjub, memandang layarku sendiri. Satu tulisan terpampang di sana. Memang berantakan. Tapi itu tulisan utuh. Dengan ide yang keluar bersamaan dengan ketikan jari.

“Nah, sekarang, silahkan mengedit,” kata Coach Lutfi. “Perbaiki tanda baca. Ganti kata dengan yang lebih lezat. Persingkat kalimat yang panjang. Sederhanakan paragraf.”

Maka kami mulai mengedit. Dengan hati yang lebih tenang. Toh, tulisan sudah jadi. Kami hanya perlu memperbaikinya.

Semua kelas menulis yang kuikuti berikutnya juga memberi tips yang sama. Tulis dulu. Baru edit.

Tips yang aku ikuti. Hingga cukup percaya diri untuk ikut menerbitkan 6 buku antologi, dan 6 judul lagi masih dalam proses.

Tapi itu perlu perjuangan lho. Apalagi buatku yang otak kirinya sangat dominan. Tarikan untuk segera mengedit sangat kuat. Padahal sudah terbukti, ideku mandek ketika aku mulai mengedit. Tulisanku tak selesai.

Nah, bagaimana dengan kamu?

#JeniusWriting
#BukuinAja
#IndscriptWriting

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like