Bersama kita bisa (2)

“Kakak lebaran dimana tahun ini?” tanya adikku.

Tentu saja aku ingin pulang. Selain karena tahun lalu tidak pulang, ini akan jadi lebaran pertama kami tanpa ayah tercinta. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada Agustus tahun lalu. Pastilah ibu merasa sepi. Kosong di dalam hati. Semoga kehadiran semua anak, menantu dan cucu akan sedikit menghibur hatinya. Putriku juga pasti senang berkumpul dengan sepupu-sepupunya yang baik hati.

Tapi itu dulu. Rencana di awal tahun. Sekarang, rencana itu pupus. Tak sampai hati, aku berpindah dari Jakarta yang telah merah oleh covid-19 ke kampung halaman. Bertemu ibu yang usia dan kesehatannya berada dalam kategori beresiko tinggi.

“Ma, kalau kami ngga bisa pulang, ngga apa-apa ya ma?” tanyaku.

Seperti yang kuduga, ibu selalu mengerti. Kita hanya menahan rindu, katanya. Di luar sana, banyak pekerja harian yang terancam kehilangan penghasilannya. Para tenaga medis, bahkan beresiko terpapar covid-19 dari pasiennya. Yang membahayakan nyawanya.

Karena itu, ibu ikut mendukung usaha teman-temanku mengumpulkan dana dan menyalurkan bantuan pencuci tangan, masker dan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis. Mendo’akan teman-teman, para donatur dan semua tenaga medis agar sehat selalu.

Bersama ini, saya ikut menyampaikan laporan pengumpulan dana dan distribusi bantuan melalui KAGAMA (Keluarga Alumni UGM) ya. Semoga, dengan bergandengan tangan (secara virtual), kita bisa melewati badai ini bersama. Amin.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like