Sedekah Ibu

Tahun 1997

Aku sedang merapikan warung ketika ia datang. Seorang ibu muda dengan anak kecil dalam gendongannya. Ia berhenti di depan warung. Menatapku ragu, lalu mengucapkan salam.
Kujawab salamnya. Kupersilakan ia masuk dan duduk, walau warung belum siap menerima pembeli. Rezeki jangan ditolak, prinsipku selalu.

“Maaf Mak. Saya bukan mau beli,” katanya. “Saya… cari kerja. Apa mamak perlu orang untuk bantu-bantu?”

Aku terdiam. Tiba-tiba merasa iba. Bagaimana ia mau bekerja dengan anak dalam gendongan seperti itu? Tapi segera kutepis pikiran itu. Aku sendiri, dulu juga bekerja dengan anak dalam gendongan. Memasak, ke kebun, berjualan, kemana saja. Semua tetap bisa kulakukan. Ah, bukan anak dalam gendongan itu yang jadi penghalang. Tapi aku, tak kan mampu membayar upahnya.

Warung ini memang kukelola sendiri. Jam tiga pagi aku sudah bangun untuk menyiapkan semua. Mie, lontong, kue-kue tradisional, kopi dan teh. Pendapatan seadanya dari warung, kugunakan untuk membantu suami membiayai pendidikan anak-anakku. Selain si bungsu, ketiga anakku sudah merantau jauh untuk kuliah.

“Kenapa perlu kerja?” tanyaku hati-hati. Rasanya wajar aku ingin tahu. Penampilan perempuan di depanku ini, tak seperti orang susah. Tapi wajahnya mendadak muram mendengar pertanyaanku.

“Rusuh di kampung, Mak. GAM dan TNI berperang terus.” Ia menjawab dengan suara pelan, lalu melihat sekeliling, seolah takut ada orang lain yang ikut mendengar perbincangan kami. Aku jadi ikut merasa tegang.

“Kami ngga bisa bekerja. Nggak bisa ke kebun. Salah-salah, kami jadi korban.” Matanya kini berkaca-kaca. “Ini baru saja kami lari dari kampung. Meninggalkan rumah dan kebun. Padahal, sebentar lagi jeruk di kebun sudah bisa dipanen.”

Aku menghela napas. Sedih mendengarnya. Dalam hati menyadari satu hal. Susahnya hidupku, masih ada yang lebih susah. Di sini, aku masih bisa berusaha mencari rezeki, walau banting tulang tak mengenal lelah. Ibarat kata, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Tapi ibu dan anak di depanku ini, keselamatannya pun terancam.

Meski begitu, aku tak bisa mempekerjakannya. Selain karena aku ingin menyimpan setiap rupiah yang kudapatkan untuk anak-anakku, warung ini pun kecil saja. Aku masih bisa mengerjakan semuanya sendiri.

Sebagai sekadar penghiburan, kusediakan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Lalu kubuka laci, mengambil uang sekadarnya, dan menggenggamkan uang itu ke tangannnya. “Semoga ada jalan mencari rezeki ya,” kataku padanya.

Ia menatapku haru. Tatapan yang tak bisa kulupakan.

====

Ini penggalan dari kisah berjudul Sedekah Ibu yang ada di dalam buku ini. Insya Allah akan terbit pada bulan April 2020, buku ini berisi kisah-kisah inspiratif tentang kekuatan sedekah yang ditulis oleh beberapa penulis perempuan. Buat yang ingin baca seluruh kisahnya, yuk kontak saya. Untuk pemesanan sampai 5 April, harganya hanya 55 ribu saja. terimakasih ya..

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Cita-Cita

Dari zaman sekolah sampai sekarang, aku cuma tahu planet Saturnus, Uranus, Neptunus dan teman-temannya yang total berjumlah sembilan…