The Call of the Wild

The call of the wild,
perjalanan menemukan jati diri

Buck, adalah anjing milik hakim Miller. Ia tinggi besar. Kekuatannya penuh. Bahkan berlebihan, untuk lingkungannya. Karena itu, walau disayang, ia juga dianggap anjing yang nakal. Merusak banyak benda dan banyak acara. Tak pelak, ia pun sering menerima hukuman sayang. Harus tidur di luar rumah, misalnya. Di teras. Dalam gelap dan dingin malam.

Sampai suatu waktu, nasib menyeretnya jauh dari rumah majikannya. Ia dijual dari tangan ke tangan. Anjing yang tadinya sangat dimanja ini, tiba-tiba dikurung, dirantai, bahkan dipukuli dengan pentungan. Kehidupannya berubah 180 derajat. Begitu keras. Begitu perih.

Tapi disitulah ia menemukan jati dirinya. Menemukan kegunaan dari kekuatannya yang besar. Melatih kemampuannya memimpin kawanan. Melindungi anjing-anjing lain dalam kelompoknya. Bahkan melindungi nyawa majikan-majikan barunya. Sampai ia, kemudian menjadi majikan bagi dirinya sendiri dan sekitarnya. Kuncinya, pantang menyerah. Percaya diri. Berani. Mengikuti insting. Belajar cepat. Suka menolong. Penuh semangat.

Tak terbayang, bagaimana ia bila kembali ke kehidupannya yang semula, pikir majikan terakhirnya. Kehidupan yang hanya memberi ia sedikit ruang untuk mengeksplorasi dirinya. Jangankan berkembang dan berprestasi, ia justru dianggap menyebalkan, dan nakal. Walau tetap disayang.

Hm.. Hal yang sama, bisa terjadi pada anak-anak kita bukan? Atau, bahkan pada diri kita sendiri. Bila nihil prestasi, mungkin kita belum berada di lingkungan yang tepat?

Penutup, kalau film ini masih ada di layar bioskop terdekat, tontonlah. Sangat bagus. Film semua umur, memberi nilai-nilai yang baik untuk anak-anak kita, dan tetap menghibur bagi saya.

Gambar dari Google

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like