Gusti Allah mboten Sare (VII)

Jawabannya ia peroleh seminggu kemudian.  Pada saat jam istirahat, Aini dan seluruh teman-teman kantornya diizinkan pergi menghadiri pernikahan salah seorang karyawan. Alih-alih ikut menghadiri acara pernikahan tersebut, Aini memilih pulang untuk melihat anak-anaknya.

Dari balik jendela ia lihat Saipul-putra tertuanya-sedang membuka lilitan kain pada rantang-rantang makanan. Aini yang menyiapkan makanan itu tadi pagi. Rantang pertama berisi nasi putih, yang kedua sayur bening, yang ketiga berisi telur. Aini memang melilit ketiga rantang tersebut dengan berlapis-lapis kain. Sekedar usaha untuk memperlambat mendinginnya makanan akibat udara dataran tinggi Takengon. Hatinya tersentuh, memperhatikan putra tertuanya, yang baru berumur 7 tahun itu, menyendokkan nasi putih dan sayur ke piring adik-adiknya. Keadaan telah menempanya menjadi abang yang penyayang dan bertanggungjawab.  “Telurnya cuma satu potong.Kita bagi 3 ya?” kata Saipul.

Aini terkejut. Hatinya berdetak. Ia tak mungkin salah. Sebutir telur ia jadikan dadar tadi pagi. Walau tipis tapi lebar. Bisa ia bagi 5, untuk seluruh anggota keluarga. Sepotong untuk dirinya, sepotong untuk suaminya, dan 3 potong ia taruh di rantang itu, untuk anak-anaknya. Aini bergegas mengucap salam dan masuk ke rumah. Ia ambil rantang dari tangan Saipul. Memang hanya ada sepotong telur didalamnya. Kemana yang 2 lagi? “Dimana Makcik Ati Pul?” tanyanya.

“Tadi kesini ma, tapi udah pulang lagi.”

“Kenapa telurnya cuma sepotong? Mana yang dua lagi?”

“Tadi diambil Makcik Ati, Ma,” jawab Saipul polos.

“Kenapa dikasih??!” tanya Aini keras.

Saipul terkejut mendengar suara keras ibunya. “Maaf Ma,” bisiknya pelan. “Kata Makcik Ati, itu memang untuk anaknya Ma. Kan tiap hari Makcik Ati selalu ke sini ngambil makanan.”

Aini menggigit bibir. Hatinya tak rela. Mengambil sebagian lauk anaknya-yang sebenarnya juga hanya sedikit-tidak termasuk dalam perjanjiannya dengan Kak Ati. Dengan rasa bersalah, ia tatap anaknya satu demi satu. Meutia sembunyi di balik badan abangnya, cemas melihat wajah ibunya yang memerah.

Aini tersadar. “Maaf suara mama jadi keras,” katanya. “Mama ga marah kok.”

Aini membuka kotak bekal makannya, mengambil sepotong telur dadarnya dan membaginya kepada tiga anaknya. “Kalian makan dulu ya,” katanya. Menyaksikan ketiga anaknya makan, Aini merenung. Apa saja yang sudah disaksikan Kak Sembiring sampai  ia berulang kali menyuruh Aini berhenti bekerja?

“Makcik Ati selalu kesini, Pul?” tanyanya menyelidik.

“Iya, Ma. Kalau dah mau makan,” jawab Saipul sambal mengunyah makanannya.

“Tiap hari?”

“Iya, tiap hari. Kan katanya mama yang suruh Makcik kesini. Ngambil makanan.”

“Ada jagain adek, ga?”

“Kan Ipul yang jagain adek, Ma. Kalau udah pulang sekolah.”

Aini tertegun. Jadi begitu. Anaknya tak terurus. Ia menarik napasnya kelu. Pahit. Hatinya menimbang-nimbang. Tiba-tiba ketukan di pintu mengagetkannya. “Assalamu’alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam.” Aini terkejut melihat tamunya. Pak Sapri, mantan bos suaminya di Angkup, berdiri di depan pintu bersamaTarigan. Ia mengenal Tarigan sebagai salah seorang pekerja lepas yang sering bekerja di proyek-proyek suaminya dulu.

“Pak Fendinya ada bu?”

“Ga ada Pak. Lagi kerja.”

“Kerja dimana? Kantornya dimana?”

Aini gelisah. Mau apa mereka kesini? Sudah 2 tahun berlalu sejak mereka meninggalkan Angkup. Apakah mereka datang hendak memperpanjang masalah? Apakah mereka akan memenjarakan suaminya? Apakah sebaiknya ia berbohong saja? Tapi suaminya tidak bersalah. Ia yakin itu.

“Di kota, di kantor BumiPutra. Ada apa Pak?”

“Makasih bu. Kami ada perlu sama Pak Fendi. Kami susul ke kantor saja. Assalamu’alaikum.” Sang tamu pamit.

“Wa ‘alaikum salam.” Aini menatap mereka sampai hilang dari pandangan. Bibirnya tak henti menyebut nama Allah, memohon perlindungan dan pertolongan.

Bersambung..

Cerita sebelumnya di https://intankd.wordpress.com/2018/12/05/gusti-allah-mboten-sare-vi/

0 Shares:
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Terompet Untuk Kakek (Cerpen)

gambar dari http://www.tribunnews.com/…/regional/view/323902/terompet-t… Fadhil memperhatikan kakeknya yang sedang memotong serong bambu kecil di tangannya. Bambu itu lalu dibelah sedikit…