Gusti Allah mboten Sare (III)

Takengon, 1980 – 1982

Aini menatap wesel ditangannya. Kiriman dari kakak perempuan satu-satunya. “Pulanglah. Kalau mertuamu belum mau menerimamu, pulanglah. Bawa anak-anakmu. Biar Fendi ke rumah orangtuanya. Nanti kalau hati mertuamu sudah cair, Fendi bisa menjemput kalian lagi.”

Aini menahan airmatanya yang nyaris jatuh. Menikmati kasih sayang kakaknya, yang sebenarnya juga hidup pas pasan di Jakarta. Tapi masih mengundangnya untuk pulang. Yatim piatu sejak kecil, memang kakaklah tempat Aini bisa pulang.

Tapi bagaimana bisa ia memisahkan anak-anak dari ayahnya? Hubungan ayah dan anak ini sangat erat. Putrinya Meutia, bahkan selalu demam setiap kali ayahnya keluar kota. Obat yang paling manjur, tidur berselimutkan kemeja ayahnya. Lagipula, suaminya tidak menunjukkan niat untuk pulang ke rumah orangtuanya yang nyaman di Langsa. Ia memilih membawa anak istrinya ke rumah sewaan ini. Rumah sepetak berlantai tanah, berdinding jerami, di pinggiran kota Takengon. Dan ia berkeliling mencari nasabah setiap hari. Ya, menjadi agen asuransi Bumi Putra adalah pilihan yang paling masuk akal buatnya saat ini. Tanpa modal, tanpa syarat pengalaman.

Aini berpikir keras. Otaknya sibuk berhitung. Tak lama, senyumnya mengembang. Ia yakin, uang ini cukup untuk membeli oven dan peralatan lain yang ia butuhkan. Ia akan balas pesan wesel kakaknya. Mengucapkan terimakasih. Dan mohon izin untuk menggunakan uang kirimannya sebagai modal awal berjualan kue, alih-alih ongkos pulang. Demi anak-anaknya, ia tak hendak menyerah.

Bersambung…

Gambar dari http://darifajarsukma.blogspot.com/…/cerita-pendek-kasih-sa…

Cerita sebelumnya ada di https://intankd.wordpress.com/2018/10/10/gusti-allah-mboten-sare-ii/

0 Shares:
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like