Gusti Allah Mboten Sare (I)

Hati Aini galau mengingat mimpinya semalam.

Angkup, 1980

Terburu-buru Aini membuka lemari, mencari baju kesayangannya. Suaminya pulang sebentar lagi. Ia ingin sudah terlihat rapi ketika suaminya tiba. Mereka berencana mengajak anak-anak berjalan-jalan santai sore ini. 

Itu dia. Aini mengambil baju kesayangannya dan segera mengenakannya. Ia agak heran ketika baju itu agak susah melewati kepalanya. Apa kancingnya belum dibuka? Ia periksa ulang. Sudah. Ia coba lagi. Nah, bisa. Tapi ia kembali kesulitan ketika hendak memasukkan tangannya ke lengan baju. Apa aku menjadi begitu gemuk? tanyanya heran. Putra bungsunya sudah berumur setahun. Mengurus 3 anak sendirian, membuat Aini dengan cepat merasa langsing kembali.

Huaah, akhirnya berhasil juga. Baju terpasang sempurna di tubuhnya. Aini menarik napas lega. Tapi, napasnya terasa sesak. Baju ini benar-benar terasa sempit. Membuatnya sulit bernapas. Aini panik. Buru-buru ia menarik bajunya ke atas. Ia harus melepaskannya. Dan syukurlah, ia terbangun dari mimpinya.

Napasnya tersengal-sengal. Mimpi itu terasa begitu nyata. Aini pelan-pelan menarik napas panjang. Menenangkan dirinya. Ia menoleh ke kiri. Mengucapkan alhamdulillah ketika melihat putra bungsunya masih tertidur dengan nyenyak, di samping suaminya yang kelelahan. Suaminya baru tiba semalam. Setelah mengikuti pendidikan selama 3 bulan di Bali. Begitu jauh, begitu lama.

Pelan-pelan, Aini berjalan ke kamar sebelah. Memeriksa dua anaknya yang lain. Mereka terlihat begitu nyenyak. Semuanya terlihat baik-baik saja. Ia melirik jam dinding, masih jam 3 pagi. Lebih baik ia mendirikan sholat tahajud. Semoga bisa menenangkan hatinya yang masih gelisah. 

Bersujud di atas sajadah, Aini melantunkan harap dan do’a kepada Yang Maha Pengasih. Semoga mimpinya hanya bunga tidur. Semoga Allah melindungi anak-anak dan suaminya, dan dirinya. Mereka tidak punya siapa-siapa di tanah perantauan ini. Hatinya menjadi sedikit lebih tenang setelah memasrahkan semuanya pada Allah. Sayang, tak bertahan lama. Menjelang siang, perasaan tak enak kembali muncul di hatinya. Tak hilang walau telah ia lafalkan nama-nama Allah dan alqur’an surah An-Nas berulang-ulang. Jawabannya baru ia dapatkan menjelang sore, ketika ia membukakan pintu dan melihat wajah muram Fendi, suaminya.

====
Bersambung…

Gambar dari Google.

0 Shares:
1 comment

Comments are closed.

You May Also Like