Hati Merindu

Berjuang menuju rumah Tuhan. Gambar hanya untuk ilustrasi, diambil dari 
http://ikapolunhas.com/…/sudahkah-mesjid-kita-ramah-difabel/

“Masjid-masjid tidak ramah pada orang tua dan orang sakit,” kata ayahku pelan. Wajahnya menyimpan kecewa yang dalam. Kulirik pintu kamar. Ibuku sudah tertidur di dalamnya. Lelah setelah menempuh perjalanan yang baginya cukup jauh, dari Ciganjur ke Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat. “Nenek sedih. Kecewa. Katanya ga bisa naik ke masjidnya.” Begitu bisik asistenku tadi.

“Maaf ya, Pa,” kataku dengan rasa bersalah membuncah. Ini bukan pertama kalinya ayahku kecewa. Sebelumnya, ayah pernah diajak Om untuk Sholat Jum’at di masjid dekat rumahku. Itu ketika ayah baru tiba di Jakarta. Sayangnya, sebagaimana masjid-masjid besar yang pernah kulihat, ruang sholat terletak di lantai atas. Buat jama’ah yang masih muda atau sehat, hal itu mungkin tak menjadi masalah. Mereka bisa naik tangga dengan mudahnya. Tapi untuk ayah dan orang-orang sepertinya yang tidak lagi bisa berjalan? Jadi persoalan besar.

Akhirnya ayah memutuskan untuk ikut sholat di halaman saja. Tapi tiba-tiba cuaca berubah mendung. Jama’ah Sholat Jum’at jadi mengkhawatirkan ayah akan kehujanan. Akhirnya, mereka beramai-ramai mengangkat ayah dengan kursi rodanya menaiki tangga, menuju ruang sholat. Begitu juga ketika pulang. Tak kurang dari enam orang membantu ayah menuruni tangga. Ayah sangat berterimakasih. Tapi jadi sungkan untuk datang kembali. Takut merepotkan banyak orang. Jadilah, sudah berbulan-bulan ayah tak Sholat Jum’at di sini. Secara fikih, mungkin tak apa. Hanya saja, hatinya merindu. Rindu masjid.

Demikian pula pada Bulan Ramadhan yang lalu. Ayah tak bisa menikmati malam-malam tarawih di masjid. ia sudah mencoba hadir di masjid yang lebih dekat dengan rumah. Masjid ini lebih kecil, dan hanya satu lantai. Hanya perlu dua kali mengangkat kursi roda. Ke teras, dan ke bagian dalam masjid. Hanya saja, seluruh lantai sudah ditutupi karpet bersih untuk sholat. Tentu saja ayah tak mau mengotori masjid dengan roda kursinya. Ia memilih sholat di halaman. Apa daya, ketika sholat akan dimulai, sekeliling ayah sudah dipenuhi oleh jama’ah perempuan yang datang belakangan. Sekali lagi, ini membuatnya sungkan untuk hadir kembali.

Dan kali ini, setelah berbulan-bulan menyimpan keinginan sejak tiba di Jakarta, akhirnya ayah dan ibu bisa sampai ke Masjid kebanggaan muslim Indonesia, Masjid Istiqlal. Tapi apa hendak dikata. Tidak tersedia jalur kursi roda untuk naik ke ruang sholat di atas. Katanya, jalur itu dulu ada, tapi kemudian dihancurkan dengan maksud untuk diganti dengan lift. Tapi hari ini, lift nya belum ada. Jalur kursi roda juga tidak ada. Ayah dan ibu berpandangan, menelan rasa kecewa mereka. Mereka hanya bisa melihat masjid yang megah ini dari luar. Berdua mereka menunaikan sholat dhuhur di luar, di atas kursi roda masing-masing. Dengan rasa rindu yang tak terpuaskan.

Aku mencium kening ayah. Tak tahu bagaimana cara menghiburnya. Hanya berharap semoga para pendiri dan pengurus masjid memperhatikan hal ini. Bisa memberikan akses kepada jama’ah yang lemah secara fisik: kaum difabel, ibu hamil, orang lanjut usia dan meraka yang sakit. Agar mereka bisa menumpahkan rasa rindunya pada Tuhan, di dalam rumahNya yang damai.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

GR

Poster maulid yang saya posting kemarin, saya kirim juga ke ibu melalui Whatsapp. Beliau lalu ‘lapor’, poster tersebut…