Incredibles 2 Sungguh Menghibur


 “Ma, sepatuku dimana?” tanya Dash di telepon. “Aku dan papa tidak tahu sepatuku dimana. Papa ga mau nelpon mama. Jadi aku aja yang nelpon mama.”

Telepon dari putranya itu diterima Elastigirl ketika ia sedang repot di atas motor, ngebut mengejar kereta api yang salah arah untuk menyelamatkan penumpangnya, sambil berkomunikasi dengan Evelyn dan Winston, 2 orang sponsornya yang berjanji membantunya mengusahakan agar keberadaan para pahlawan super kembali legal.

“Dash, ibu sedang bertugas. Tidak bisa bicara lama-lama. Cari di bawah ranjangmu.” Lalu ia kembali tancap gas, dan akhirnya, berhasil menuntaskan misi penyelamatannya.

Untuk para ibu, adegan di atas terasa akrab tidak? Dimanapun ibu berada dan sedang melakukan apapun, panggilan telepon dari rumah, terutama dari anak, pasti akan selalu diangkat. Tak peduli sedang berada dalam rapat penting, atau sedang mekakukan presentasi penjualan, misalnya. Dan sering isinya hanya untuk pertanyaan-pertanyaan ‘remeh’, semisal: Dimana sepatuku? Dimana kunci motor? Aku boleh makan es krim dua?

Incredibles 2. Gambar oleh Nouruzzahra S. Dhanta

Adegan di atas adalah cuplikan dari film Incredibles 2. Film ini dibuka dengan adegan keluarga Incredibles bahu membahu berusaha menyelamatkan kota dari kejahatan Underminer, dibantu oleh sahabat mereka, Frozone. Alih-alih mendapat penghargaan dan dukungan, mereka justru ditangkap polisi dan disalahkan atas kerusakan kota. Dan yah, terutama karena keberadaan dan tindakan para pahlawan super, telah dianggap ilegal oleh hukum yang berlaku. Program Pahlawan Super telah ditutup.

Dari situ masalah kemudian bergulir. Antara patuh pada hukum – yang berarti berdiam diri dengan kejahatan yang berlangsung di depan mata – atau tetap berjuang melawan kejahatan, yang berarti melawan hukum. Diskusi berat ini terjadi di meja makan, begitu berat diskusinya sampai Mr. Incredible dan Elastigirl bertengkar di depan anak-anaknya, sesuatu yang (menurut pakar) sebaiknya tidak dilakukan. Bagusnya, mereka kemudian bisa kembali diskusi dengan kepala dingin dan bersama-sama mencari solusi. Terutama, tanpa program Pahlawan Super, mereka menjadi pengangguran. Tidak ada pemasukan. Sementara hidup perlu biaya.

Solusi dan sekaligus masalah, muncul ketika ada tawaran pekerjaan untuk Elastigirl di luar kota. Solusi, karena rumah dan kebutuhan sehari-hari menjadi tercukupi. Masalah, karena itu berarti Elastigirl harus meninggalkan anak-anak nya. Siapa yang akan mendampingi Violet yang sedang naksir teman sekolahnya? Siapa yang akan membantu Dash belajar dan mengerjakan PR? Siapa yang akan menjaga bayi Jack-Jack yang super duper aktif?

Disinilah ego Mr. Incredible diuji. Walau merasa dirinya lebih hebat dari istrinya, walau merasa dirinya lebih pantas mendapatkan pekerjaan yang ditawarkan pada istrinya, toh ia harus realistis. Apalagi, bila istrinya berhasil, bukan hanya dirinya, tapi juga anak-anaknya dan bahkan teman-teman supernya, akan dapat beraktifitas heroik lagi. Ya, Elastigirl menerima tawaran untuk muncul sebagai pahlawan super di kota yang rawan kejahatan. Ini juga sebuah ironi. Karena tadinya, ia yang paling tegas memutuskan untuk meninggalkan kehidupan sebagai pahlawan super demi patuh pada hukum. Di sini, film ini mengajak penonton untuk mengkritisi keberadaan suatu hukum dan tidak berdiam diri bila ternyata hukum tersebut bertentangan dengan rasa keadilan.

Dan di sinilah kelucuan-kelucuan adegan benar-benar dimulai. Tawa penonton beberapa kali membahana di studio tempat saya dan keluarga menonton, melihat Mr. Incredible kelabakan mengurus anak-anaknya. Kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis kedua anaknya yang lebih besar, kelelahan mengurus si bayi Jack-Jack yang justru mengeluarkan 17 macam kemampuan supernya ketika ibunya tak di rumah. Sesuatu yang nanti ‘disesali’ ibunya (helllooo working mom, do you feel it?).

Menyadari sulit dan kompleksnya menjadi orangtua, Mr. Incredible akhirnya ‘melupakan’ keinginannya kembali menjadi pahlawan super. Ia hanya ingin, bisa menjadi Ayah Super. Yang bisa memahami putrinya, yang bisa diandalkan putranya, yang bisa melesatkan potensi bayi mungilnya. Dan… “Yes, you’re a super dad,” bisik Violet, putrinya. Sungguh indah… Bukankah itu penghargaan tertinggi yang orangtua ingin capai?

Saya juga suka pada kekompakan keluarga ini, terutama pada sikap anak-anaknya. Kakak dan abangnya begitu sayang dan bangga pada adik bayi mereka. Sama sekali tidak ada iri hati melihat kekuatan adiknya yang jauh melebihi kekuatan mereka sendiri.

Masih ada hal-hal menarik lainnya, sebenarnya. Tapi saya cukupkan saja ya. Takutnya masih ada yang belum nonton, nanti jadi ga seru kalau udah diceritakan semua. Buat yang udah nonton, bagaimana pendapatnya? Setujukah kalau film ini sungguh menghibur?

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Nonton Pameran Lukisan

“Mana dragonnya, Kak?” tanyaku sambil memandang lukisan yang terlihat abstrak bagiku. The Dragon, judulnya, tertulis di kertas kecil…