Selamat Jalan, Makwo

“Maghan, maghan,” kata Makwo sambil menyodorkan piring nasi padaku.

Aku tersenyum. “Iya, Makwo. Tenang saja.”

Tapi makwo tak kan tenang sebelum melihat aku dan kami semua makan. Ia masih saja seperti dulu. Selalu sibuk melayani tamu. Maka kuterima piring dari tangannya itu. Kuambilkan juga buat orangtuaku, dan kami semua yang datang mengunjunginya di hari itu.

Perlu mengambil tambahan piring, aku melangkah ke dapur. Hatiku bergetar memandang dapur yang mungil ini. Terbayang Makwo dulu berdiri di depan kompor, sibuk menyiapkan makanan tiap kali aku berkunjung. Tak kan ia biarkan aku meninggalkan rumahnya dengan perut kosong. Bahkan lembaran rupiah pun selalu ia selipkan di tanganku ketika aku berpamitan pulang. Dalam segala kesederhanaannya, ia sungguh telah melimpahi aku – dan semua ponakan dan kerabatnya – dengan perhatian dan cinta yang tulus.

Kembali ke ruang depan, aku melihat makwo tersenyum puas, melihat semua tamunya telah mulai menikmati makan siang. Tak lupa ia mengingatkan bahwa ada teh manis hangat yang tersaji di meja. Obrolannya tetap mengalir penuh semangat, walau kata-katanya sudah sangat sulit kufahami. Ya, serangan stroke bukan saja membuat kemampuan bergeraknya jauh menurun, tapi juga membuatnya sulit berkata-kata. Padahal, betapa ingin ia bercerita. Betapa ingin kami bertukar cerita.

Dan hari ini, tak ada lagi cerita yang dapat disampaikan. Tak ada pertanyaan lagi yang dapat diajukan. Tak ada lagi keriangan yang ditunjukkan. Makwo hanya terbaring diam membeku. Tertutup kain batik seluruh tubuhnya. Namun aku yakin, ia menyadari kehadiran kami. Mendengar sapaan kami. Melihat rindu di hati kami. Mencium wangi cinta yang membalas cintanya.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun…

Selamat jalan Makwo Murniati binti Abdul Munir. Kami berharap kepulanganmu disambut para malaikat yang ramah dan menentramkan. Kebaikanmu menjelma wujud yang menemanimu di alam tunggu. Tiada kesepian bagimu. Ruang bagimu lapang dan wangi oleh cintaNya. Semoga engkau ditempatkan bersama orang-orang sholeh di sisiNya. Shalawat dan alfatihah untukmu.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Keadilan Ayah

Ini sepenggal kisah seorang ayah, yang mencintai keempat anaknya sepenuh hati. Bagai hatinya terbelah empat sama besar. Masing-masing…