THR yang (Tak) Ditunggu

“Rasanya, kalau boleh, biar begini saja. Daripada harus dibongkar lagi.”

Aku menatap ibuku. Mengerti perasaannya. Aku pun rasa nyeri membayangkan jahitan yang sudah menutup itu harus dibuka lagi. Kulit di sekitarnya sampai berwarna ungu. Mungkin karena sudah beberapa kali diobok-obok. Sudah 5 kali disayat dan dijahit kembali.

Tapi apa yang harus kulakukan selain berusaha bersikap tegar di hadapan ibu? Kucium pipinya. Kutatap matanya. “Harus dibuka lagi, mama. Bone spacer itu tidak didesain untuk berlama-lama di dalam sana. Harus dicabut lagi nanti.”

Ibu tersenyum, berusaha menutupi kekecewaannya, mendengar sesuatu yang ia sudah tahu sebelumnya. “Yah, jalani saja,” bisiknya pada diri sendiri.

Aku memahami perasaan ibu. Walau belum bisa berjalan, ia terlihat nyaman dengan kondisinya kini. Nyeri hebat tak terasa lagi. Luka jahitan juga alhamdulillah telah kering.Tak seperti dulu. Selalu basah oleh cairan dari dalam tubuh.

“Tolong geser kaki mama ke kiri Nak,” pinta ibuku. Aku menaruh tanganku di bawah tumitnya, lalu menggesernya perlahan ke kiri, sampai ia merasa nyaman dengan posisinya. Dengan dicabutnya implan yang membantu menyambungkan tulang panggul dan tulang paha, ibu memang tak dapat menggerakkan sendiri kaki kirinya. Tak dapat berjalan. Tak dapat menapakkan kakinya. Kami menunggu. Berharap dan berdo’a agar bone spacer yang ditanamkan di dalam tulang ibu bekerja dengan baik. Membunuh kuman dan menghentikan infeksi di dalam sana. Hingga ibu bisa kembali menjalani operasi THR (Total Hip Replacement). 

“Lukanya kering, Nak,” kata ibu sambil meraba jahitan bekas operasinya, yang memanjang dari pangkal paha ke lutut. “Pertanda baik, ma. Semoga infeksinya menghilang ya,” sahutku optimis.

“Mama khawatir, kalau-kalau tubuh mama tidak bisa menerima implan. Nanti infeksi lagi.”

Aku tersenyum. Mencoba menghilangkan kekhawatiran ku sendiri. “Satu di antara seribu, ma. Insya Allah implannya bisa diterima oleh tubuh mama.”

Sekarang aku mengerti mengapa ibu rasa tak ingin menjalani operasi THR lagi. Bukan, bukan karena tak ingin lukanya dibuka lagi. Tapi khawatir benda asing itu tak diterima oleh tubuhnya. Dokter, itu satu diantara seribu kan? Atau satu diantara seratus ribu? Atau lebih kecil lagi kemungkinannya?

Ibu menarik selimutnya. Aku bantu menutupi bagian kakinya. “Selamat tidur, Ma.” Kukecup keningnya. “Semoga Allah mengabulkan do’a-do’a kita. Amin.”

Sumber gambar: https://www.oahct.com/index.php/specialties/hip/total-hip-replacement

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Galau

Di rumahku ada tempat yang paling berbahaya, yaitu sofa di ruang tengah. Walau bahan pelapisnya sudah mulai retak,…