Tikaman Matanya

Aku terpana melihatnya. Wajah kucel dengan rambut gimbal. Kulit gelap dan tubuh kurus. Memandang lurus padaku.

Ingusnya keluar. Membentuk angka sebelas di wajahnya. Ia sapu dengan punggung tangannya. Aku membuang muka.

Namun nanar tatapan matanya membuat ku kembali padanya. Lekat ia memandangku. Lebih tepatnya, memandang sepiring sate di hadapanku. Wanginya menguar ke udara. Tentu tercium pula olehnya.

Gelisah dalam hatiku. Aku tak terlalu suka pada pengemis ibukota. Banyak kudengar mereka hanya menipu. Sehat, tapi pura-pura sakit. Bertubuh normal, tapi pura-pura cacat. Berlaku miskin, padahal punya rumah gedung di kampung. Tapi tatapan anak kecil dalam gendongan ibunya itu membuatku luluh.

Uang sudah hampir kukeluarkan dari dompet. Tapi satu pikiran baru menyergapku. Baiklah, mungkin ini win-win solution_ Baik untuknya, baik untukku.

Sembari mencoba memperbaiki mimik wajahku, kutanya, “Ibu mau sate?” Sang ibu menatap wajah anaknya, menatap sate di piringku, lalu mengangguk padaku. “Sate 2 piring bang,” kataku pada sang penjual. “Sama aquanya,” lanjutku. Mas penjual menyiapkan pesananku dengan sigap.

Ibu dan anak dalam gendongannya menolak duduk di meja pembeli. Mereka mojok, duduk di atas trotoar, dan menikmati satenya dengan lahap. Hatiku bagai ditikam melihat tatapan terimakasih mereka berdua. Sampai kini, tatapan itu, tak pernah kulupa.

Foto hanya untuk ilustrasi, diambil dari Dhanifoto.wordpress.com

#JeniusWriting
#Online9
#TugasJurusPecahTelur

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like