Damai

Kupandangi wajahnya. Terlihat damai dalam tidurnya. Kakinya yang terbalut perban, seperti tak mengganggu tidurnya. Istrinya setia menemani disampingnya. Jelas aku cemburu padanya.

Aku kembali memandang ayahku. Wajahnya pucat menahan nyeri. Kusentuh tangan keriputnya. Kugenggam erat dalam do’a. “Duh, Tuhan, izinkan ayahku bisa beristirahat sejenak,” rintihku pilu.

Luka diujung kaki ayah menimbulkan nyeri tak tertahankan. Begitu nyerinya sampai ia tak bisa tidur berhari-hari, bermalam-malam. Hingga kondisinya semakin menurun. Hingga aku cemburu pada pasien lain yang bisa tidur dengan damai.

Tapi rumput tetangga selalu lebih hijau. Istri pasien sebelah berdiri dari duduknya, mendekati ibuku. Berbicara melipur diri. “Alangkah senangnya saya, kalau suami saya bisa bangun seperti suami ibu. Sejak operasi amputasi kemarin, suami saya belum terbangun juga,” katanya sendu.

Aku tergugu. Mata kadang ‘menipu’. Apa guna cemburu?

======
Kenangan Masa Lalu

#JeniusWriting
#Online9
#tugascepat

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

GR

Poster maulid yang saya posting kemarin, saya kirim juga ke ibu melalui Whatsapp. Beliau lalu ‘lapor’, poster tersebut…