Piano, Ku Tahu yang Kumau

Sudah 2 bulan aku kembali tinggal di sini. Berdesakan di lantai 1 toko ini dengan piano-piano upright lainnya. Yah, sebenarnya ga terlalu sesak juga. Tetap ada jarak diantara kami. Pengaturan yang apik dari pemilik toko memungkinkan tidak ada satu centi pun ruang yang tersia-sia. Sementara teman-teman kami yang lebih besar, grand piano, diletakkan di lantai 2.

Setiap kali pintu toko membuka, aku menajamkan penglihatan ku. Memperhatikan siapa yang datang. Entah bagaimana, aku akan tahu apakah mereka menyukaiku. Menyukai piano, menyukai musik.

“Tentu saja yang datang ke sini semuanya suka piano,” sergah temanku. Ia berasal dari Jepang, dari keluarga Yamaha.

“Ah, ya belum tentu,” sahutku. “Banyak kok yang beli piano tapi ga suka sama piano. Tuh buktinya. Anak Samick itu baru 6 bulan yang lalu dibeli oleh sebuah keluarga. Eh, sekarang sudah dikembalikan lagi kesini.”

“Kenapa?” tanya si Yamaha.

Aku hanya diam, memberi kesempatan pada si Samick untuk menjawabnya sendiri.
Samick menarik napas panjang. “Aku dibelikan oleh seorang ayah untuk putrinya, agar ia bisa belajar musik klasik. Tapi anak itu lebih suka menari lincah daripada duduk menekan tust piano. Ia selalu mengeluh dan bahkan menangis ketika disuruh memainkan aku.”

Samick diam sejenak, seolah-olah memberi kami kesempatan untuk membayangkan situasinya. “Katanya, jarinya jadi sakit.”

Aku tepekur. Sedih membayangkan diri kita tidak disukai. Tapi lebih sedih lagi bila kita menyebabkan duka dan sakit dari seorang anak kecil.

“Terus?”

“Syukurlah setelah 6 bulan, ayah ibunya menyadari bahwa mereka tidak bisa memaksa putrinya. Anaknya ingin menari, bukan main piano. Akhirnya,seperti yang kalian lihat, aku kembali ke sini. Sekarang, aku selalu berdo’a agar yang mengambilku adalah yang benar-benar menyukai dan membutuhkanku.”

Aku mengaminkan dalam hati. Itu juga keinginanku. Si Yamaha mengangguk-angguk mengerti . Aku tahu ia belum punya pengalaman serupa.

Si Yamaha baru berumur 3 tahun. Begitu lahir, ia langsung dimiliki oleh seorang gadis kecil berambut pirang yang menyayanginya. Sayangnya,si gadis kecil dan keluarganya harus pindah keluar negri dan si Yamaha harus ditinggalkan. Sang ayah berjanji akan membelikannya piano baru di sana. Si gadis kecil menangis sedih ketika meninggalkan si Yamaha di toko ini. Sungguh membuatku terharu waktu itu.

Aku sendiri? Tadinya aku bahagia sebagai milik dari seorang gadis yang sangat ceria. Sampai pada suatu hari, ia berhenti memainkanku. Bosan, katanya. Satu kata yang sangat menyakitkanku. Membuatku patah hati. Setelah 5 tahun kebersamaan? Aku pikir ia mencintaiku. Dan begitulah, aku kembali ke toko ini. Berharap mendapatkan pemilik baru yang benar-benar menyukaiku.

Tiba-tiba seorang gadis kecil datang mendekatiku. Saking asyiknya mengobrol, aku sampai tak menyadari kehadirannya. Ia menyentuh tubuhku lembut. Lalu membuka penutup tust ku, dan menekan tust ku pelan.

“Nah, ini kelihatannya cocok untuk Zahra. Ini dari Heilmann. Izinkan saya memainkannya.”

Dengan semangat aku mengeluarkan nada yang sesuai dengan tekanan jari majikanku. Suaraku melesat melabrak udara. Si gadis berambut ikal itu terlihat senang. Mata belo’ nya berbinar bagai bintang. Aku jadi suka padanya.

“Suka?” tanya majikanku.

“Suka. Aku mau yang ini, ma. Dia cantik sekali. Dia aku kasih nama Lia.”

Apa? Hatiku melambung mendengarnya. Baru kali ini ada yang memberiku nama. Majikanku sendiri terlihat terkejut.

“Wah, nama yang bagus sekali. Baiklah. Lia akan diantar ke rumah kamu besok ya?” katanya pada si gadis kecil.

Si gadis kecil mengangguk senang.

Dan disinilah aku. Sudah 1,5 tahun. Di rumah ini, tak ada yang memainkanku kecuali si gadis kecil yang kemudian kuketahui bernama Zahra. Aku harap, ia menyukaiku selamanya. Aku akan menemaninya selamanya.

#JeniusWriting
#Online9
#Tugas4sesi5

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like