Dibalik Ambulans

Aku tersentak ketika pak Syafrie membunyikan sirine. Seolah baru tersadar bahwa aku berada di dalam ambulans. Bertambah kesadaranku ketika memandang ibu yang terbaring di dipan di depanku. Ini bukan perjalanan biasa. Ini perjalanan penuh harapan. Perjalanan menggapai kesembuhan.

Sirene ambulans pun meraung membelah pagi. Kendaraan-kendaraan lain segera menepi memberi ruang. Dulu, hanya itulah arti ambulans bagiku. Kendaraan yang harus didahulukan oleh pengguna jalan yang lain.

Sampai semua jadi berbeda di suatu sore. Sore yang pucat bagai wajah perawan yang meriang. Ketika kami memandang wajah seorang sahabat untuk terakhir kalinya. Sebelum kantong jenazahnya kemudian ditutup. Dan ia dibawa turun dari kaki Merapi dengan ambulans.

Saat itu aku tersadar, ambulans bukan sekedar kendaraan biasa. Ia membawa tangisan dan terkadang menciptakan kehilangan. Sejak itu aku faham, ambulans bukan sekedar kendaraan biasa. Ia membawa ketergesaan, membawa cemas, harapan, dan juga do’a.

Sejak itu aku selipkan do’a setiap kali ambulans melintas. Shalawat dan alfatihah untuk mereka yang di dalamnya. Dan kali ini, kiriman shalawat dan alfatihah aku harapkan untuk ibuku.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like
Read More

Cake Pertama

Abaikan penampilannya, Yang penting rasanya… Kuhibur diri dengan dua kalimat itu, ketika melihat cake buatanku dan Zahra. Permukaannya…

Damai

Kupandangi wajahnya. Terlihat damai dalam tidurnya. Kakinya yang terbalut perban, seperti tak mengganggu tidurnya. Istrinya setia menemani disampingnya.…