Bukan Tak Rindu (2)

“Papa di sana aja dulu ya. Nanti kesininya kalau saya sudah dapat jadual operasi aja. Ini intan masih bolak balik ngantarin saya ke rumah sakit. Nanti papa ditinggal sendiri di rumah.”

Aku tak mendengar apa jawaban ayah di ujung telepon. Tapi aku yakin beliau hanya akan mengiyakan. Ayah cenderung diam. Kalaupun tak setuju, akan menyimpannya di dalam hati. Apalagi dalam kondisi beliau sekarang ini.  Hanya bisa duduk di kursi roda. Tergantung sangat pada orang lain.

Ibu tak tahu kalau kekasih yang sedang ditelponnya itu baru saja pulang dari perawatan di rumah sakit. Dua hari setelah tiba kembali di Banda Aceh untuk suatu urusan yang tidak bisa diwakilkan, kondisi ayah tiba-tiba sangat menurun. Adikku bergegas membawa beliau ke rumah sakit. Hanya sebentar di IGD, tim medis memindahkan beliau ke ICU. Alhamdulilah 3 hari kemudian kondisinya membaik, sehingga bisa pindah ke kamar rawat inap. Dan dua hari kemudian, diizinkan pulang.

Kami memang tidak memberi tahu ibu. Melepas ayah kembali pulang ke Banda Aceh saja sudah berat buatnya. Siapa yang mengurus papa? Bagaimana makannya? Bagaimana tidurnya? Semua jadi pikiran ibu. Walau ia sendiri tak berdaya di tempat tidur. Kami tak ingin menambah susah hatinya. Kami ingin hatinya tenang. Kami ingin ia sehat dalam menjalani pemeriksaan pra-operasi, dan nantinya siap masuk ke ruang operasi.

Alhamdulilah pemeriksaan pra-operasi ibu berjalan lancar. Hasilnya baik. Dokter spesialis Paru, Jantung, Penyakit Dalam, dan Anestesi, memberikan lampu hijau untuk ibu maju ke meja operasi. Pencabutan implant dan pemasangan bone bracer. Jadual pun sudah ditetapkan. 6 Maret 2018. Semoga Allah mengizinkan.

Sayangnya, kondisi ayah kembali menurun. Tiga hari di rumah, beliau harus kembali dilarikan ke Rumah Sakit. Kali ini, tak bisa lagi kami sembunyikan dari ibu. “Mama berhak tahu,” kata kakak iparku. “Jangan sampai nanti mama malah marah sama kita. Lebih buruk nanti jadinya.”

Dan memang tak bisa kami sembunyikan lagi. Kali ini, ayah butuh perawatan yang lebih lama di rumah sakit. Dengan Whatsapp video call, mama bisa melihat papa yang terbaring lemah dengan selang  yang terpasang untuk membantu pernapasannya.

“Papa cepat sehat yaaa,” kata ibu. Ia menahan tangisnya melihat kondisi ayah.

“Iya, mama Sayang. Nanti saya sehat dan nemani mama operasi ya,” kata papa lemah.

Ibu tak sanggup lagi. “Sudahlah Nak, cukup teleponnya. Kasihan papa, capek ngomongnya.”

Telepon ditutup. Dalam hati, aku mulai menghitung hari. Berharap ayah sudah cukup sehat sebelum tanggal 6 nanti. Agar ia bisa tiba di sini menguatkan kekasih hati. Operasi kali ini, memang butuh kesiapan lebih. Ini akan lebih sulit dari operasi pertama, pemasangan implant (Total hip replacement) sebelumnya. Lebih sulit dari operasi debridment yang sudah 2x dijalani ibu setelahnya.

Alhamdulillah papa kemudian sudah boleh pulang tanggal 2 Maret 2018. Namun begitu, kondisinya masih belum menjanjikan. “Tolong kasih tahu mama kalau papa ga bisa cepat-cepat ke Jakarta ya,” katanya lemah, nyaris menyerah.

Dengan hati-hati kusampaikan pada ibu. Ia tersenyum, menutupi cemas di hatinya.

“Mama pasrah Nak. Kalau papa bisa datang, mendoakan mama sebelum masuk ruang operasi, mama bersyukur.”

Ia diam sejenak. “Mama memang pengen, sebelum masuk ruang operasi, bisa cium tangan papa, bisa minta maaf sama papa. Tapi kalau papa belum sehat, jangan dipaksakan. Jangan nanti papa malah tambah sakit. Mama mau, papa betul-betul sehat, baru datang kemari.”

Aku mengangguk. Lega. “Kita mengharapkan yang terbaik, tapi tetap harus siap dengan kemungkinan terburuk ya ma.” Ibu mengangguk. Kupeluk bahunya dan ku cium pipinya. Dalam hati, aku masih menyimpan harap, ayah bisa kemari. Bukan cuma demi ibu, tapi demi ayah sendiri.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like