Bukan Tak Rindu

PMTOH_httpimotorium.com20160424profil-dan-sejarah-fa-pmtoh-bus-asal-aceh-dengan-trayek-terjauh-yang-eksis-hingga-kini

“Bahagia itu sederhana, berkumpul bersama keluarga.”

Begitu keterangan foto yang dikirimkan seorang teman ke salah satu grup whatsapp yang aku ikuti. Foto seorang presenter terkenal bersama keluarganya. Tersenyum bahagia. Aku pun tersenyum. Berkumpul memang membahagiakan. Tapi apa iya sederhana? Bukankah tidak semua keluarga selalu bisa berkumpul? Seperti aku dulu.

“Kamu nggak mudik?” begitu dulu pertanyaan salah seorang teman kuliahku. Wajah terkejutnya membuatku tidak nyaman. Seolah-olah aku melakukan kesalahan besar.

“Iya, nggak mudik,” jawabku.

“Wah, buat kami, berkumpul di hari lebaran itu ya harus. Semuanya akan dikorbankan untuk bisa mudik,” sambungnya.

Aku diam. Hatiku kecut. Merasa dituduh sebagai anak tak berbakti, tak pulang ketika lebaran menjelang. Ah, aku terlalu perasa. Ia mungkin tidak bermaksud menyalahkan aku. Ia hanya heran dan terkejut. “Ada ya, orang yang ga pulang waktu lebaran?”

Aku bukan tak tahu, pentingnya berkumpul. Aku bukan tak rasa, bahagianya berkumpul. Tapi keadaan setiap keluarga tak selalu sama. Hatiku haru mengingat ucapan ibu, ”Mama rela Intan gak pulang kalau mama meninggal.” Kalimat yang diucapkan dengan menahan luapan rasa, menyadari ia mungkin tak bisa mengirimi aku uang untuk pulang. Sekaligus menjadi bukti, bahwa ibu akhirnya mengizinkan aku pergi lebih jauh. Ke Yogya. Kuliah.

Maka aku pun menyiapkan mental untuk tak pulang sampai lulus, sebagaimana ibu menyiapkan mental untuk tak melihatku lama. Aku menguatkan hati di depannya, sebagaimana ia tak menangis ketika meninggalkankanku sendiri di Yogya. Tanpa tau kapan ia bisa datang kembali. Tanpa tahu apakah ia bisa mengirimi aku ongkos pulang.

Tapi ibu adalah ibu. Ia tak pernah menyerah pada kerasnya hidup. Serupiah demi rupiah ia kumpulkan dengan teguh. Hingga setelah 2 tahun, cukup untuk membeli tiket Yogyakarta – Kutacane dan sebaliknya. “Pulanglah libur panjang ini,” isi suratnya. Hatiku meluap oleh rasa gembira. Perjalanan pulang 3 hari 3 malam di liburan semester genap, aku tempuh tanpa merasa lelah. Tentu tanpa membawa oleh-oleh apapun. Yang penting, kumpul.

Kelak aku tahu. Walau tegar berpisah, ibu memasang tekad di hatinya. Ia harus bisa memanggil pulang anaknya setelah 2 tahun. Bukan, bukan karena rindu semata. Tapi karena ia perlu melihat dengan mata kepalanya sendiri, apakah anak yang ia kirim jauh dari rumah, masih menjaga nilai-nilai yang ia tanamkan dari rumah.

Begitulah. Tidak sedikit keluarga yang harus hidup terpisah. Mungkin karena pekerjaan, menuntut ilmu, orang tua sakit, dan lain sebagainya. Mereka harus mencari cara bahagia yang lain, bukan?

Note: Foto dari http://imotorium.com/…/profil-dan-sejarah-fa-pmtoh-bus-asa…/

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Instan

“Ma, sambalnya instan ya?” tanya Zahra. “Nggak,” jawabku sambil mengambil dua sendok sambal dari kotak kemasan di kulkas,…