Balado Ibu

“Balado ikan terinya Tan, jangan lupa,” kata ibuku.

“Iya ma,” jawabku.

Dengan sigap kumasukkan toples plastik berisi sambalado teri buatan ibuku ke dalam kopor. Jangan sampai ketinggalan. Ini harta yang paling berharga. Bisa aman selera makanku sampai 2 minggu ke depan.

Sambalado ibu memang makanan kesukaanku. Apa saja bahannya, pasti kulahap habis. Mau ikan, ayam, tempe, tahu, apalagi ikan teri nasi. Taburkan saja di atas nasi putih hangat, maka aku sudah tak perlu yang lainnya. Nikmatnyaaaa.

Karena itulah ibu selalu menyiapkannya setiap kali aku akan kembali ke Langsa. Seperti kali ini. Setelah menikmati libur kenaikan kelas di Kutacane, aku akan segera kembali ke Langsa. Kopor sudah siap. Aku akan berangkat besok pagi setelah subuh. Ke Langsa. Menempuh SMA ku disana.

Setelah aku lulus SMA dan kuliah di Yogya, ibu masih juga suka menyiapkan ikan teri balado untukku. Kali ini dikirimkan via pos, tidak menungguku pulang. Karena hanya sekali dalam 2 tahun aku pulang kampung.

Meski begitu, pernah juga aku merasa malu karena sambalado ibu. Waktu itu aku sudah lulus kuliah dan sudah bekerja di Jakarta.
Alkisah, suatu hari ibu dan aku akan bepergian naik pesawat, dari Jakarta ke Medan. Eh, ibu kok ya tetap menyiapkan ikan kembung sambalado di tas tanganya.

“Untuk apa bawa sambalado ma? Kan nanti dapat makan siang di pesawat?”

“Ah, belum tentu nanti pas rasanya sama selera mama,” jawab ibuku.

Aku mengangkat bahu. Sambil membayangkan ibuku makan sambaladonya dalam pesawat. Akan jadi perhatian orang-orang ga ya?

Ternyata ibu tidak makan di pesawat. Belum lapar, katanya. Padahal aku yakin, menu yang minim rempah itu tentu tak menggugah seleranya. Tak heran, begitu sampai di bandara Polonia Medan, ibuku segera mengajakku mencari rumah makan. Ia memesan nasi putih dengan sayur dan lauk sekedarnya. Dan tarraaa..!!! Ia membuka bekal ikan sambaladonya, mengaduk nasi dengan sambalnya, dan mulai makan dengan lahapnya.

Seorang anak muda yang duduk di meja dekat kami memperhatikan ibu dengan seksama. Aku jadi khawatir. Apakah di rumah makan ini juga berlaku aturan seperti banyak di restoran di Jakarta? Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. Tapi ibu tetap makan dengan lahap, tak memperhatikan kekhawatiran ku. Ya, ia pasti lapar. Ini sudah lewat jam makan siang.

Tiba-tiba si anak muda bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati kami. Aku jadi waspada. Mau apa dia?

“Mak, masih ada ikan mamak? Dari dari kutengok enak kali mamak makan. Selera aku nengoknya.”

Aku bengong.

“Oh, ambil..ambil..” kata ibuku dengan gembira.

Disodorkannya wadah ikan sambaladonya ke si anak muda. “Masih banyak ikan mamak. Ambil terus.”

Anak muda itu terlihat gembira. Ia kembali ke mejanya mengambil piringnya, lalu menyendokkan sepotong ikan balado ke dalamnya. “Makasih ya Mak,” katanya senang. Lalu ia kembali makan, kali ini terlihat lebih lahap.

Ibuku tersenyum. Menatapku. Maluku kini berganti menjadi bangga.

Ah, Mama. Kau memang luar biasa, bisik hatiku.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like