Si Manis

si manis

“Ma, aku mau mengantar surat ini ke kuburan si Manis,” kata Zahra ketika aku pulang dari kantor malam ini. Manis adalah salah satu kucing ‘peliharaan’ Zahra. Kuberi tanda kutip, Karena ia tidak benar-benar dipelihara. Ia tetap bebas berkeliaran, namun akan datang setiap hari di waktu-waktu makan, sampai aku berpikir, bahwa ia ke rumah hanya untuk mencari makan saja. Kenyataan bahwa ia juga datang setiap pagi untuk ‘mengantar’ Zahra naik mobil jemputan sekolah, atau datang setiap sore untuk bermain dengan Zahra, tidak memupus tuduhanku itu. Sampai kemudian ketika kami kembali dari mudik selama 10 hari, simbak di rumah laporan bahwa si Manis dan temannya Kitty (kata Zahra, suaminya) tidak pernah datang lagi ke rumah. Zahra sangat sedih mendengarnya sampai berkata, “Aku gak mau punya kucing lagi.” Namun, eng ing eeng, jam 10 malam, terdengar suara meong-meong diluar. Owalaaaah, itu si Manis dan Kitty udah ada di teras. Apa mereka tahu ya kalau Zahra sudah sampai rumah lagi jam 8 malam ini? Dan esoknya, kebiasaan rutin mereka pun mulai lagi, datang setiap hari untuk Zahra. Kali ini aku ‘menyerah’. Ternyata mereka bukan cuma cari makan, hiks. Zahra means something for them. Sebagaimana mereka juga sungguh berarti buat Zahra.

Dan kemarin pagi, satpam kompleks menyampaikan berita duka. Ia menemukan si Manis sudah mati kaku. Ada bercak darah di moncongnya. Entahlah, apa ia tertabrak mobil? Zahra begitu sedih dan ingin melihat si Manis untuk terakhir kalinya, tapi mobil jemputan sekolah sudah datang dan tentunya tidak bisa menunggu. Lagipula, kupikir, lebih baik ia tidak melihat si Manis dalam keadaan yang menyedihkan. Kupaksa ia agar segera naik mobil jemputan, dengan alasan tidak boleh terlambat, karena ada ujian hari ini. Pak satpam lalu membantu menguburkan si Manis di tanah kosong di samping kompleks. Mau tak mau, hatiku sedih membayangkan bahwa ia menderita semalam.

“Ma…aku rindu Manis   , huhuhuhuhu…”, Begitu pesan yang dikirim Zahra ke wa ku, sore sepulang ia dari sekolah. Duh Zahra, sedangkan nyamuk dan capung mati saja kamu sedih, apalagi ini si Manis. Dan beginilah Zahra meluapkan kerinduannya, dalam surat yang ditulis untuk si Manis (mohon abaikan kesalahan ejaan Bahasa Inggrisnya dalam surat aslinya)

Dear my lovely cat, Manis
I gonna always remember you. Why you die? I know you can’t talk, but I just want to know. I miss you sooooo……much, cause when I close my eyes, I see you, and when I open my eyes, I see (other) cats then I gonna cry. Your children must be so…sad, and Kitty is lonely, and I just want to say thank you to be my lovely cat.
Yours truly,
Your people, Zahra

Mama: kok your peole?
Zahra: Ya kan dia my cat, aku its people, manusianya dia.
Mama: Oh, ok 🙂
Di bagian bawah surat, ia beri gambar dirinya yang sedang menangis berurai air mata, membayangkan saat-saat Indah ketika ia bermain dengan kedua kucingnya, juga ia gambarkan Kitty yang sedang menangis di kuburannya Manis. Ia kemudian memastikan ke ayah ibunya bahwa si Manis sekarang sudah bermain di surga.

Owalaah anakku, lembutnya hatimu…

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Ibu dan Anak

Ketika mamanya sedang berhenti mengejar deadline menulis buku, anaknya semalam datang menunjukkan 5 judul komik. “Mudah-mudahan bisa masuk…